Penambangan nikel di Indonesia menghadapi ancaman serius karena dampaknya terhadap lingkungan serta keselamatan pekerja. Nikel merupakan mineral yang sangat penting untuk produksi baterai kendaraan listrik atau EV (electric vehicle). Namun, banyak pihak mengkritik bahwa upaya Indonesia untuk memproduksi nikel dengan lebih efisien dan ramah lingkungan belum memenuhi harapan.
Presiden Joko Widodo pernah menjanjikan peningkatan standar lingkungan di sektor ini. Penambangan nikel diketahui terkait dengan masalah deforestasi dan pencemaran udara serta air.
Didit Wicaksono, manajer iklim dan energi di Greenpeace Indonesia, mengungkapkan bahwa pemerintah telah “salah mengartikan” permintaan global terhadap EV. Ia menyebutkan bahwa hal ini digunakan untuk membenarkan eksploitasi nikel sebagai komoditas mineral penting, yang membawa dampak lingkungan yang luar biasa. “Pemerintah juga menggunakan batu bara untuk pengembangan, yang akan membuat negara kesulitan mencapai target emisi,” tambahnya.
Salah satu insiden mencolok terjadi Desember lalu. Sebuah ledakan di pabrik pengolahan yang dimiliki oleh Tsingshan, pemasok Tesla dari Tiongkok, mengakibatkan 21 pekerja tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Sejak itu, polisi Indonesia menjatuhkan tuntutan atas kelalaian kepada dua warga negara Tiongkok.
Dampak negatif ini semakin diperburuk oleh kondisi industri EV yang sedang berjuang. Jesse Kuri dari BCA Research menjelaskan, “Pemotongan harga di seluruh sektor menunjukkan bahwa pasar sudah jenuh.” Namun, saat ini pemerintah Indonesia tetap maju dengan rencana mereka.
Potensi Tambang Nikel di Indonesia
Ketika Elon Musk mengunjungi Jakarta untuk meluncurkan layanan Starlink pada akhir Mei, pemerintah mengusulkan agar Tesla membangun pabrik baterai kendaraan listrik di negara tersebut. Pejabat investasi menyatakan bahwa Musk mengatakan akan mempertimbangkan tawaran itu, tetapi dirinya belum memberikan komentar lebih lanjut.
Pada pertengahan tahun 2020, Elon Musk secara terbuka meminta agar perusahaan tambang menawarkan akses lebih besar untuk nikel.
“Ada perusahaan tambang di luar sana, tolong tambang lebih banyak nikel, oke?” ujarnya pada panggilan laporan keuangan. “Tesla akan memberikan kontrak besar untuk jangka waktu lama jika Anda menambang nikel secara efisien dan dengan cara yang ramah lingkungan.”
Segera setelah itu, Tesla menjalin kesepakatan senilai $5 miliar untuk mendapatkan nikel dari Indonesia. Indonesia, sebagai negara dengan mayoritas Muslim dan populasi sekitar 280 juta jiwa, memiliki luas tiga kali lipat ukuran Texas. Negara ini terhampar di kepulauan dengan jarak yang sebanding dengan antara San Francisco dan Bermuda di Atlantik Tengah.
Terpendam di bawah hutan bakau, hutan hujan purba, dan gunung api aktif, Indonesia menyimpan cadangan nikel terbesar di dunia, yaitu 42% dari pasokan global. Nikel ini adalah elemen penting untuk baterai yang dapat diisi ulang, termasuk baterai untuk kendaraan listrik dan transisi hijau secara keseluruhan.
penambangan nikel kendaraan listrik lingkungan