Bank Dunia memprediksi bahwa harga komoditas global akan jatuh ke level terendah dalam lima tahun pada tahun 2025. Penurunan ini disebabkan oleh kelebihan pasokan minyak yang signifikan dan permintaan yang menurun dari negara China.
Menurut laporan terbaru yang dirilis oleh Bank Dunia pada Rabu (30/10/2024), diperkirakan pasokan minyak global akan melebihi permintaan rata-rata sebesar 1,2 juta barel per hari. Angka ini hanya pernah terjadi dua kali sebelumnya, yaitu pada tahun 1998 dan 2020.
"Kelebihan pasokan minyak begitu besar sehingga kemungkinan akan membatasi dampak harga bahkan dari konflik yang lebih luas di Timur Tengah," ungkap Bank Dunia dalam laporannya.
Di sisi lain, permintaan minyak di China terus stagnan. Hal ini disebabkan oleh peningkatan penjualan kendaraan listrik dan perlambatan dalam sektor manufaktur. Dengan kondisi ini, pasar minyak global menghadapi tantangan yang cukup berat.
Bank Dunia juga memperkirakan bahwa beberapa negara yang tidak tergabung dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya akan meningkatkan produksi minyak mereka pada tahun depan. Meskipun diprediksi akan terjadi penurunan tajam pada tahun 2025, harga komoditas diperkirakan tetap 30 persen lebih tinggi dibandingkan dengan level sebelum pandemi.
"Harga komoditas yang turun dan kondisi pasokan yang lebih baik dapat menjadi penyangga terhadap guncangan geopolitik," kata Kepala Ekonom Bank Dunia, Indermit Gill, dalam sebuah pernyataan resmi.
Proyeksi ini menunjukkan pentingnya pemantauan pasar komoditas agar kita dapat memahami dinamika ekonomi global yang terus berubah. Perubahan harga komoditas bisa berpengaruh besar terhadap banyak sektor, termasuk energi, makanan, dan barang konsumsi lainnya.
Bank Dunia harga komoditas proyeksi 2025 penurunan