Menurut survei terbaru yang dilakukan oleh Wexner Medical Center dan College of Medicine, sekitar 25% orang dewasa mencurigai bahwa mereka menderita Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) setelah melihat konten yang relevan di media sosial, seperti TikTok dan Instagram. Namun, yang perlu dicatat adalah hanya sekitar 4.4% orang dewasa berusia antara 18 hingga 44 tahun yang benar-benar didiagnosis dengan gangguan ini.
ADHD adalah kondisi yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk fokus dan mengatur perilaku. Banyak orang yang merasa kewalahan dan teralihkan perhatiannya mungkin mengaitkan gejala-gejala ini dengan ADHD setelah terpapar informasi di internet. Meskipun demikian, para ahli memperingatkan bahwa melakukan diagnosis sendiri berdasarkan video atau postingan di media sosial dapat berisiko.
"Kecemasan, depresi, dan faktor lainnya dapat menyebabkan gangguan konsentrasi yang mirip dengan gejala ADHD," ungkap para ahli. Mereka mendorong agar orang-orang tidak terburu-buru dalam menyimpulkan bahwa mereka menderita ADHD hanya karena mereka melihat konten yang sesuai dengan pengalaman mereka.
Self-diagnosis atau diagnosis diri sendiri dapat membuat orang mengabaikan masalah sebenarnya yang mereka hadapi. Dalam beberapa kasus, hal ini juga dapat menyebabkan penggunaan obat-obatan yang tidak perlu, yang justru dapat memperburuk keadaan.
Para profesional kesehatan mental menyarankan agar individu yang merasa memiliki gejala ADHD untuk berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan mental yang terlatih. Dengan cara ini, mereka bisa mendapatkan diagnosis yang akurat dan penanganan yang tepat.
Penting untuk memahami bahwa meskipun banyak orang mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi, tidak semua orang yang merasakannya mengalami ADHD. Memperoleh informasi yang benar dan mencari bantuan dari profesional adalah langkah yang bijak. Dengan cara ini, kita bisa lebih memahami kesehatan mental kita dan mendapatkan dukungan yang diperlukan.
ADHD survei Wexner Medical Center diagnosis kesehatan mental