Politisi di Amerika Serikat mulai menunjukkan kesepakatan yang jarang terjadi mengenai reformasi ganja. Dalam pemilihan mendatang, baik mantan Presiden Donald Trump maupun Wakil Presiden Kamala Harris telah menyatakan dukungan mereka untuk mengurangi pembatasan penggunaan ganja dan mengklasifikasikannya sebagai zat yang kurang berbahaya.
Dukungan ini disambut baik oleh perusahaan dan investor di industri ganja. Menurut data dari perusahaan riset BDSA, industri ganja di AS diperkirakan akan menghasilkan penjualan sebesar $32,3 miliar tahun ini, dan diproyeksikan mencapai $45,4 miliar pada tahun 2028. Dengan pelonggaran klasifikasi ganja, perusahaan-perusahaan ganja dapat mengurangi beban pajak, meningkatkan penelitian mengenai ganja, dan memberikan tekanan kepada Kongres untuk memberikan akses perbankan yang lebih luas bagi industri ini.
George Archos, CEO dari Verano Holdings, salah satu perusahaan ganja terbesar di AS, mengatakan, "Partai Demokrat menginginkan ini, Partai Republik juga menginginkannya—keduanya seharusnya dapat bersatu dan mencapai sesuatu yang masuk akal." Ia menambahkan, "Tidak ada yang meminta hal yang tidak masuk akal: Berikan kami perbankan yang aman, biarkan kami beroperasi seperti bisnis normal."
Hingga 31 Agustus, 24 negara bagian dan Washington, D.C., telah melegalkan penggunaan ganja untuk orang dewasa. Tujuh negara bagian lainnya telah mendekriminalisasi penggunaan rekreasionalnya. Pada bulan November mendatang, legalisasi ganja akan menjadi pilihan dalam pemilu di Florida, North Dakota, dan South Dakota.
Dengan dukungan bipartisan yang semakin kuat, masa depan industri ganja di Amerika tampak semakin cerah.
legalisasi ganja dukungan bipartisan Donald Trump Kamala Harris