Pada akhir abad ke-8, Baghdad menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia melalui pendirian Bayt al-Hikmah, atau yang dikenal dengan nama "House of Wisdom". Tempat ini dibangun pada masa kekhalifahan Abbasiyah dan berfungsi sebagai perpustakaan yang menyimpan ratusan ribu buku dari berbagai belahan dunia.
Bayt al-Hikmah mengingatkan kita pada tiga poin penting. Pertama, Islam memiliki tradisi yang kuat dalam ilmu pengetahuan dan rasionalitas. Budaya berpikir logis dan rasional ini menghasilkan banyak pemikir hebat, seperti Ibn Sina, yang dikenal sebagai bapak kedokteran, Al Khwarizmi, yang menemukan aljabar, dan Ibn al-Haytham, yang dikenal sebagai bapak optik modern dan penemu kamera pinhole. Terlebih lagi, kata pertama dalam ayat Al-Quran yang diturunkan adalah "Iqra", yang berarti "bacalah", menunjukkan pentingnya membaca dan belajar.
Kedua, investasi terhadap ilmu dan ilmuwan sangat berpengaruh untuk kemajuan suatu bangsa. Harun al-Rashid, pendiri Bayt al-Hikmah, rela mengeluarkan biaya besar untuk mendatangkan ilmuwan dari berbagai daerah. Bayangkan, pada masa itu, seorang polimatik bisa mendapatkan imbalan yang setara dengan atlet terkenal masa kini, seperti Lionel Messi atau Serena Williams. Seorang penerjemah bahkan dibayar dengan emas seberat buku yang diterjemahkannya, menunjukkan betapa berharganya ilmu pengetahuan saat itu.
Ketiga, keterbukaan dan toleransi dapat menyatu dengan ketakwaan. Bayt al-Hikmah menjadi tempat dialog bagi cendekiawan dari berbagai agama, menjangkau mulai dari Kalkuta hingga Sisilia. Mereka mendiskusikan berbagai tulisan dari budaya Yunani, Romawi, Bizantium, Persia, dan Hindu. Sintesis pemikiran yang beragam ini menghasilkan teori-teori baru yang menjadi dasar bagi penemuan selanjutnya.
Sayangnya, Bayt al-Hikmah mengalami kehancuran pada tahun 1258 akibat serangan Hulagu Khan. Serangan ini membawa tirai gelap bagi zaman keemasan peradaban Islam, sementara Eropa mulai menunjukkan kecemerlangan baru.
Dalam konteks peradaban saat ini, Bayt al-Hikmah mungkin dapat dilihat sebagai sebuah semesta paralel. Di masa lalu, jalur sutera menghubungkan berbagai bangsa, sementara sekarang kita memiliki poros maritim yang kaya. Bayt al-Hikmah adalah tempat pertemuan banyak budaya, dan Indonesia pun memiliki keragaman budaya serta biodiversitas yang sangat kaya.
Semoga sejarah dan pelajaran dari Bayt al-Hikmah bisa menjadi renungan bagi generasi muda, terutama sebelum kita kehilangan kesempatan untuk memanfaatkan bonus demografi yang dimiliki saat ini.
Bayt al-Hikmah ilmu pengetahuan Baghdad sejarah