Sebuah survei nasional yang melibatkan para kepala sekolah dan administrator di tingkat sekolah dasar dan menengah menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka sangat prihatin tentang pengaruh smartphone terhadap siswa. Hal ini memicu seruan untuk menerapkan kebijakan #telefonbebassekolah agar tidak ada penggunaan smartphone dari awal hingga akhir hari sekolah.
Menurut survei tersebut, banyak kepala sekolah berpendapat bahwa smartphone tidak seharusnya ada di lingkungan sekolah, termasuk saat istirahat. Mereka percaya bahwa jika siswa, baik yang masih praremaja maupun remaja, tahu bahwa mereka bisa segera mengakses internet, perhatian mereka tidak akan sepenuhnya tertuju pada pelajaran yang diajarkan. Padahal, waktu belajar di sekolah sangat penting untuk perkembangan mereka.
Sebagai alternatif, orang tua disarankan untuk memberikan ponsel sederhana kepada anak-anak mereka jika ingin tetap berhubungan selama jam sekolah. Ponsel flip sederhana dapat ditemukan dengan harga sekitar $50, dan paket layanan berbicara dan mengirim pesan tersedia mulai dari $15 per bulan.
Dengan menerapkan kebijakan bebas smartphone, diharapkan siswa dapat memiliki waktu belajar yang tidak terganggu selama 6 hingga 7 jam setiap hari. Fokus mereka akan lebih terarah pada studi dan interaksi sosial dengan teman sebaya, bukan pada drama di media sosial. Ini adalah langkah yang diambil untuk mendukung kesehatan mental generasi muda kita.
Pendapat dari ahli seperti Jonathan Haidt, yang dikenal dengan bukunya yang membahas tentang kesehatan mental generasi muda, turut menguatkan pendapat ini. Semua pihak diharapkan dapat bekerja sama untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik dan lebih fokus.
smartphone sekolah siswa survei