Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Laba Bersih PT Pertamina Geothermal Energy Turun Tipis di 2024

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) baru saja melaporkan hasil keuangannya untuk kuartal III tahun 2024. Perusahaan ini mencatatkan laba bersih sebesar USD133,99 juta, yang setara dengan sekitar Rp2,09 triliun. Meskipun angka ini masih terbilang besar, laba bersih yang didapatkan mengalami penurunan tipis sebesar 0,36 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yaitu USD133,50 juta.

Tak hanya laba yang mengalami penurunan, pendapatan usaha PGEO juga turun sebesar 0,70 persen menjadi USD306,02 juta atau sekitar Rp4,78 triliun, dari sebelumnya USD308,19 juta.

Perincian Penjualan Berdasarkan Wilayah

Berdasarkan segmen geografis, penjualan dari area Kamojang menjadi yang terbanyak dengan kontribusi mencapai USD116,09 juta. Penjualan dari area Ulubelu tercatat sebesar USD88,85 juta, disusul area Lahendong dengan USD62,64 juta. Selain itu, area Lumut Balai mencatatkan penjualan sebesar USD31,41 juta, dan area Karaha mencapai USD7 juta.

Pengeluaran dan Beban Perusahaan

Dari sisi pengeluaran, beban pokok pendapatan dan beban langsung lainnya tercatat sebesar USD132,19 juta atau sekitar Rp2,06 triliun, meningkat dari sebelumnya USD126,21 juta. Sementara itu, beban umum dan administrasi PGEO tercatat sebesar USD2,84 juta atau sekitar Rp44,46 miliar.

Total Aset dan Liabilitas

Hingga akhir September 2024, total aset PGEO tercatat sebesar USD2,94 miliar atau sekitar Rp46,13 triliun, yang juga mengalami penurunan sebesar 0,52 persen dari posisi pada akhir Desember 2023 yang sebesar USD2,96 miliar. Liabilitas perusahaan tercatat sebesar USD964,65 juta, sedangkan ekuitas mencapai USD1,98 miliar.

Rencana Belanja Modal 2024

Untuk tahun 2024, PGEO menganggarkan belanja modal sebesar USD547 juta atau sekitar Rp8,52 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar 10 persen hingga 15 persen akan dialokasikan untuk perawatan aset, sementara sisanya akan digunakan untuk growth capex atau pengembangan perusahaan.

Belanja modal ini juga akan mendukung ekspansi guna meningkatkan produksi perusahaan. Selain itu, dana tersebut akan dialokasikan untuk rencana pertumbuhan secara organik dan akuisisi perusahaan lainnya.

library_books Idx Channel