Dalam sebuah referendum yang diadakan di Republik Moldova, hasil awal menunjukkan bahwa sebagian besar pemilih mendukung keinginan negara tersebut untuk bergabung dengan Uni Eropa. Dari hasil yang diumumkan pada hari Senin, 50,39 persen suara menyatakan "ya" untuk keanggotaan, dengan kurang dari satu persen suara yang masih dihitung.
Presiden Moldova yang pro-Uni Eropa, Maia Sandu, menanggapi hasil ini dengan menyatakan bahwa ini adalah "pertarungan awal yang sulit". Dia juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dugaan pembelian suara yang terjadi, yang ia sebut sebagai serangan terhadap kedaulatan negara Moldova.
Tuduhan ini menimbulkan reaksi keras dari berbagai organisasi internasional dan pemerintah. Peter Stano, juru bicara Uni Eropa, menyatakan, "Pemungutan suara ini terjadi di tengah intervensi dan intimidasi tanpa preseden dari Rusia dan perwakilannya, yang berusaha untuk mendestabilisasi proses demokratis di Republik Moldova." Selain itu, pemerintah Jerman juga menyatakan keprihatinan yang mendalam terhadap pengaruh besar Rusia dalam pemilu ini.
Sementara Rusia membantah semua tuduhan tersebut dan menyebut pemilu di Moldova sebagai "tidak bebas".
Selain referendum, pemilihan presiden juga berlangsung bersamaan. Menurut hasil sementara, Maia Sandu harus maju ke putaran kedua pemilihan presiden. Ia meraih 42 persen suara, sementara pesaing terdekatnya, Alexandr Stoianoglo yang dikenal sebagai kritikus Uni Eropa, mendapatkan 26 persen suara. Sandu tidak berhasil mencapai ambang batas 50 persen yang diperlukan untuk menang langsung.
Republik Moldova memiliki populasi sekitar 2,5 juta jiwa, dan saat ini sedang berada di tengah pertarungan pengaruh antara Uni Eropa dan Rusia, yang keduanya berusaha untuk memperkuat posisi mereka di negara bekas Soviet ini.
Moldova Uni Eropa referendum Maia Sandu Rusia