Jens Stoltenberg, Sekretaris Jenderal NATO, menyatakan bahwa tindakan pasukan Ukraina untuk menyerang wilayah Rusia di Kursk adalah tindakan yang sah. Ia menegaskan bahwa Ukraina memiliki hak untuk membela diri. Pernyataannya ini disampaikan dalam sebuah wawancara dengan surat kabar "Welt am Sonntag".
Stoltenberg juga merespons tuduhan dari pemerintah Moskow yang menyebutkan bahwa negara-negara Barat sudah diberitahu tentang serangan yang terjadi pada 6 Agustus lalu. Ia menjelaskan, "Ukraina tidak merundingkan rencana untuk Kursk dengan NATO sebelumnya, dan NATO tidak terlibat dalam hal tersebut." Keputusan mengenai tindakan pertahanan sepenuhnya berada di tangan Ukraina.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, telah menjelaskan bahwa operasi di Kursk bertujuan untuk menciptakan zona penyangga. Ini dilakukan untuk mencegah serangan lebih lanjut dari Rusia melintasi perbatasan.
Namun, situasi di perbatasan semakin memanas. Di kota Belgorod, yang terletak selatan Kursk, laporan dari pejabat setempat melaporkan bahwa lima orang tewas akibat serangan Ukraina. Selain itu, 46 orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan tersebut, seperti yang disampaikan oleh Wjatscheslaw Gladkow, gubernur wilayah Belgorod.
Sementara itu, di sisi lain perbatasan, kota Kharkiv di Ukraina juga mengalami dampak dari konflik ini. Setelah serangan udara Rusia, jumlah korban di Kharkiv meningkat secara signifikan. Menurut gubernur militer Oleh Synjehubow, setidaknya 97 orang terluka akibat serangan tersebut, sedangkan tujuh orang dinyatakan tewas. Serangan itu menghantam sebuah gedung apartemen bertingkat dua belas.
Data mengenai kemajuan perang, penembakan, dan jumlah korban dari kedua pihak, Rusia dan Ukraina, saat ini sulit untuk diverifikasi oleh pihak independen. Hal ini membuat keadaan semakin rumit dan tidak jelas.
nato ukraina kursk konflik rusia