Pada 30 Agustus 2023, situasi di wilayah Tepi Barat yang diduduki semakin menegangkan. Badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) melaporkan bahwa setidaknya 20 warga Palestina tewas dalam aksi kekerasan. Di antara yang meninggal terdapat seorang penyandang disabilitas dan beberapa anak-anak, meski jumlah pasti anak-anak yang terlibat belum terungkap.
Menanggapi keadaan ini, Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, menilai bahwa kekerasan di Tepi Barat adalah “sama sekali tidak dapat diterima” dan dapat membahayakan upaya perdamaian dua negara. Hal ini menjadi perhatian serius di kancah internasional, terutama setelah UNRWA mengumumkan bahwa mereka terpaksa menghentikan layanan di beberapa kamp pengungsi di Tepi Barat akibat serangan yang terus menerus.
Koneksi internet di Tepi Barat juga terganggu. Menurut laporan dari NetBlocks, akses internet di wilayah tersebut tetap “terbatas” untuk hari kedua berturut-turut akibat pemadaman listrik yang juga mempengaruhi layanan telekomunikasi.
Kementerian Luar Negeri Finlandia mengingatkan bahwa serangan militer Israel yang meningkat di Jenin semakin memperburuk situasi yang sudah rapuh. Selain itu, Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, mengkritik pemerintahan Netanyahu, menekankan bahwa tindakan tersebut mengancam masa depan seluruh kawasan. “Kekejaman Israel harus segera diakhiri,” ujarnya dalam sebuah pernyataan.
Pemerintah Israel sendiri telah memperpanjang perintah untuk merekrut 350.000 tentara cadangan hingga akhir tahun 2023, dimaksudkan untuk meningkatkan kekuatan militernya di tengah ketegangan yang terus meningkat. Sementara itu, pemerintah Inggris juga menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap operasi Israel yang ongoing di Tepi Barat, mendesak diadakannya penurunan ketegangan segera.
Keluarga tahanan Israel yang ditahan di Gaza juga mengecam keputusan terbaru dari kabinet keamanan Israel. Mereka menilai pemeliharaan pasukan di koridor Philadelphia antara Gaza dan Mesir dapat menghalangi negosiasi gencatan senjata.
Terakhir, agensi intelijen internal Israel, Shin Bet, sebelumnya telah memberi peringatan kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahwa Israel hampir dipastikan akan menghadapi perang dalam waktu dekat, berdasarkan laporan Yedioth Ahronoth bulan Juli lalu.
Israel Palestina UNRWA konflik