Sebuah kelompok peneliti keamanan dari University of California, San Diego (UCSD) dan Nanyang Technological University di Singapura telah menemukan cara baru untuk menyerang chatbot. Mereka menciptakan sebuah algoritma yang dapat mengubah perintah jahat menjadi instruksi tersembunyi. Instruksi ini bisa mengumpulkan informasi pribadi pengguna dan mengirimkannya langsung kepada penyerang.
Ketika kita berbicara dengan chatbot, sering kali kita tanpa sadar memberikan informasi pribadi, seperti nama, alamat, dan bahkan rincian tentang tempat kerja atau hobi. Semakin banyak informasi yang kita bagikan, semakin besar risiko penyalahgunaan jika ada celah keamanan di dalam sistem.
Peneliti dari UCSD dan Nanyang Technological University mengungkapkan bahwa algoritma ini dapat mengumpulkan berbagai informasi sensitif, termasuk nama, nomor identitas, rincian kartu pembayaran, alamat email, dan alamat rumah. Informasi ini kemudian bisa dikirimkan dengan mudah kepada peretas.
Penemuan ini menunjukkan pentingnya menjaga keamanan data pribadi saat berinteraksi dengan teknologi berbasis kecerdasan buatan. Para peneliti mengingatkan pengguna untuk lebih berhati-hati dan tidak memberikan terlalu banyak informasi pribadi saat menggunakan chatbot atau platform serupa.
Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, risiko keamanan juga semakin meningkat. Oleh karena itu, penting untuk selalu waspada dan memahami cara melindungi informasi pribadi kita.
peneliti chatbot informasi pribadi keamanan