Pada tanggal 31 Agustus 1971, Ratu Juliana bersama Pangeran Bernhard dari Belanda mengunjungi Candi Borobudur yang terletak di Magelang, Jawa Tengah. Kunjungan ini merupakan bagian dari misi kenegaraan yang dimulai ketika Ratu Juliana tiba di Jakarta pada 26 Agustus 1971.
Kunjungan selama 10 hari ini menjadi momen bersejarah karena Ratu Juliana adalah penguasa Belanda pertama yang berkunjung langsung ke Indonesia. Candi Borobudur sendiri adalah sebuah monumen Buddhis yang terkenal dan dianggap sebagai salah satu keajaiban dunia, dibangun pada abad ke-8 dan ke-9.
Saat berada di puncak candi, Pangeran Bernhard melakukan siaran langsung kepada rakyat Belanda melalui Radio Belanda. Dia menyampaikan pesan resmi dari Ratu Juliana tentang pengalaman mereka selama di Indonesia. Siaran ini ditembuskan dengan bantuan pesawat terbang yang berkeliling di atas Borobudur, yang kemudian mengirimkan siaran tersebut ke satelit Jatiluhur di Jawa Barat.
Di puncak Candi Borobudur, Ratu Juliana juga menerima cendera mata yang cukup unik. Cendera mata tersebut berupa lemari berukiran seni pahat kayu Jepara yang tingginya mencapai dua meter. Selain itu, juga diberikan sebuah pigura kayu yang memuat foto resmi Ratu dan Pangeran, dengan lambang Belanda terpahat di bagian atas pigura. Lambang itu menunjukkan dua ekor singa yang menahan mahkota kerajaan, serta tulisan "Je Maintendrai," yang berarti "Saya akan mempertahankan."
Cendera mata tersebut disampaikan oleh Gubernur Jawa Tengah, Munadi, sebagai simbol hubungan baik antara kedua negara. Kunjungan Ratu Juliana ke Borobudur bukan hanya memperkuat ikatan antara Belanda dan Indonesia, tetapi juga meninggalkan jejak bersejarah dalam catatan hubungan diplomatik kedua negara.
Ratu Juliana Candi Borobudur hubungan Belanda-Indonesia