Pada tanggal 17 Oktober 2023, Israel mengkonfirmasi bahwa pemimpin Hamas, Jahja Sinwar, telah tewas dalam sebuah operasi militer yang dilakukan oleh Angkatan Pertahanan Israel (IDF). Menurut pernyataan dari Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, Sinwar dianggap sebagai "pembunuh massal" yang bertanggung jawab atas serangan teror yang terjadi pada 7 Oktober 2023, yang mengakibatkan kematian sekitar 1.200 orang dan penculikan sekitar 250 orang lainnya.
Operasi yang dilaksanakan di Jalur Gaza ini dilaporkan mengakibatkan tiga anggota ekstremis tewas. Namun, identitas mereka belum dapat dipastikan. Israel sedang melakukan tes DNA pada salah satu mayat untuk memastikan apakah salah satu dari mereka adalah Sinwar. Sumber-sumber keamanan Israel menyebutkan bahwa kabinet keamanan Israel telah diberi informasi bahwa pemimpin ekstremis tersebut kemungkinan besar telah tewas.
Beberapa stasiun televisi Israel, seperti Kan dan N12, juga melaporkan berdasarkan informasi dari militer bahwa Sinwar telah meninggal. Jurnalis militer dari ARD, Christian Limpert, melaporkan bahwa para ahli militer yang dianggap sangat kredibel juga telah mengkonfirmasi kematian Sinwar. Menurut laporan, pasukan Israel secara tidak sengaja bertemu dengan Sinwar dan anggota Hamas lainnya, yang kemudian berujung pada baku tembak di mana Sinwar tewas.
Jahja Sinwar dikenali sebagai otak di balik serangan brutal Hamas yang terjadi pada 7 Oktober. Selain itu, ia juga menjadi tokoh kunci dalam upaya negosiasi yang gagal terkait gencatan senjata dan pembebasan sandera Israel. Ia dijuluki sebagai "wajah kejahatan" oleh Israel. Sejak serangan pada 7 Oktober, Sinwar tidak terlihat di depan umum, menambah ketegangan yang sudah ada di kawasan tersebut. Kematian Sinwar dapat memperburuk situasi di Timur Tengah yang sudah sangat tegang.
Israel Hamas Jahja Sinwar tewas operasi militer