Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Nelayan Surabaya Terancam Ocean Grabbing Akibat Reklamasi

Surabaya, 17 Oktober 2024 - Ruang hidup para nelayan di Surabaya kini berada dalam kondisi yang sangat rentan. Ancaman ocean grabbing, atau perampasan ruang laut, semakin mendesak akibat reklamasi yang dilakukan dalam proyek strategis nasional (PSN). Hal ini disampaikan dalam Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Permenko) Nomor 6 Tahun 2024, yang mencakup 14 proyek PSN baru.

Salah satu proyek yang disoroti adalah Surabaya Waterfront Land (SWL), yang dirancang untuk mengembangkan kawasan pesisir secara terpadu. Proyek ini mendapatkan perhatian luas karena dianggap dapat mengubah wajah pesisir Surabaya. Namun, banyak pihak berpendapat bahwa proyek ini justru mengancam keberlangsungan hidup para nelayan.

Ocean grabbing adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan praktik pengambilalihan ruang laut yang seharusnya menjadi hak masyarakat pesisir. Dengan adanya reklamasi, area perairan yang sebelumnya digunakan oleh nelayan untuk mencari ikan dan mata pencaharian mereka menjadi hilang. Hal ini tidak hanya berdampak pada ekonomi nelayan, tetapi juga pada keberlanjutan ekosistem laut.

Banyak nelayan di Surabaya mengungkapkan kekhawatiran mereka tentang dampak dari proyek SWL. Mereka merasa bahwa suara mereka tidak didengar dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan proyek ini. "Kami berharap pemerintah bisa mempertimbangkan dampak yang akan kami hadapi. Reklamasi ini bisa membuat kami kehilangan tempat mencari nafkah," ujar salah satu nelayan.

Para aktivis lingkungan juga menyoroti bahwa reklamasi akan merusak habitat laut dan mengancam berbagai spesies ikan yang menjadi sumber kehidupan nelayan. Beberapa di antara mereka telah melakukan aksi protes untuk menolak reklamasi di wilayah pesisir Surabaya.

Dalam konteks ini, pemerintah diharapkan dapat mencari solusi yang lebih berkelanjutan, yang tidak hanya memperhatikan aspek pembangunan tetapi juga melindungi hak-hak masyarakat pesisir. Perlu adanya dialog antara pemerintah, nelayan, dan masyarakat luas untuk menemukan titik temu.

Dengan adanya ancaman ocean grabbing dan reklamasi, masa depan nelayan di Surabaya menjadi semakin tidak pasti. Keberlangsungan hidup mereka sangat bergantung pada keputusan yang diambil oleh pemerintah dan stakeholder terkait.

Para nelayan dan aktivis terus menyerukan untuk menolak reklamasi yang dianggap merugikan, sambil berharap agar suara mereka dapat didengar dan diperhatikan.

library_books Walhijatim