Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

FBI Temukan Iran Terlibat dalam Serangan Siber terhadap Kampanye Trump

Para pejabat intelijen AS, termasuk FBI dan Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur, mengungkapkan bahwa Iran berada di balik serangan siber yang baru-baru ini menargetkan kampanye presiden Donald Trump. Hal ini menjadi bagian dari upaya yang lebih luas oleh Teheran untuk mempengaruhi pemilihan umum 2024.

Dalam pernyataan bersama, kantor Direktur Intelijen Nasional, FBI, dan Badan Keamanan Siber menegaskan klaim kampanye Trump yang menyatakan mereka telah menjadi target serangan Iran. "Kami telah mengamati aktivitas Iran yang semakin agresif selama siklus pemilihan ini, terutama yang melibatkan operasi pengaruh terhadap publik Amerika dan operasi siber terhadap kampanye presiden," kata lembaga keamanan tersebut.

“Ini termasuk kegiatan yang baru dilaporkan untuk merusak kampanye mantan Presiden Trump, yang kami atribusikan kepada Iran,” lanjut mereka.

Tanggapan dari Iran melalui misi mereka di Perserikatan Bangsa-Bangsa menolak keterlibatan negara tersebut dalam serangan siber dan menantang Washington untuk memberikan bukti atas klaim tersebut. "Tuduhan semacam itu tidak berdasar dan tidak punya landasan," ujar misi itu dalam pernyataan resmi. Mereka menambahkan, "Sebagaimana yang telah kami umumkan sebelumnya, Republik Islam Iran tidak memiliki niat atau motif untuk campur tangan dalam pemilihan presiden AS."

Iran juga meminta pemerintah AS untuk menyerahkan bukti yang relevan jika mereka benar-benar percaya pada klaim yang diutarakan. "Jika pemerintah AS benar-benar percaya pada validitas klaimnya, seharusnya mereka menghadirkan bukti yang relevan yang akan kami tanggapi sesuai," tegas misi Iran.

Namun, komunitas intelijen AS menunjukkan bahwa Iran menganggap pemilihan pada tanggal 5 November sebagai momen penting bagi kepentingan mereka. Beberapa analis berspekulasi bahwa Iran mungkin lebih memilih Wakil Presiden Kamala Harris untuk memenangkan pemilihan tersebut.

Mantan Presiden Donald Trump sebelumnya menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 dan meningkatkan penegakan sanksi terhadap Republik Islam tersebut. Dia juga menyetujui pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani dari Korps Penjaga Revolusi Iran pada tahun 2020, yang semakin memperburuk hubungan antara kedua negara.

library_books