Pada hari Sabtu, pasukan Israel melanjutkan serangan mendalam di kawasan Jabalia, Gaza, di tengah gempuran udara dan darat yang berat. Serangan ini merupakan bagian dari operasi yang sudah berlangsung selama seminggu di utara Gaza.
Operasi militer ini dimulai pada tanggal 6 Oktober, ketika Israel mengimplementasikan apa yang disebut sebagai "rencana jenderal". Rencana ini bertujuan untuk mengosongkan utara Gaza dari sekitar 400.000 penduduknya dan menjadikannya sebagai "zona militer tertutup".
Sejak itu, pesawat tempur dan artileri militer Israel telah menyerang Jabalia, yang merupakan kamp pengungsi terbesar di Jalur Gaza. Serangan ini membuat ribuan orang terjebak di rumah mereka. Kawasan yang padat penduduk ini telah dikepung selama seminggu, tanpa ada pasokan makanan atau air yang masuk.
Menurut data dari pertahanan sipil di Jabalia, setidaknya 220 orang telah tewas sejak dimulainya operasi tersebut. Rencana ini dirancang oleh pensiunan Jenderal Mayor Giora Eiland dan diluncurkan dalam kampanye televisi Israel pada bulan September lalu. Rencana ini memperingatkan tentang kemungkinan pembersihan etnis di utara Gaza, dan mengancam bahwa mereka yang tetap tinggal akan menghadapi kelaparan.
Beberapa penduduk kamp Jabalia mengungkapkan kepada media bahwa mereka tidak mendapatkan peringatan sebelumnya sebelum serangan dimulai. Berbeda dengan kejadian sebelumnya di mana mereka diberikan waktu 24 jam untuk meninggalkan area tersebut. Salah satu warga, Abed Ali, mengatakan, "Tentara tiba-tiba masuk dari semua arah dan menutup semua jalan keluar dari Jabalia."
Meskipun militer Israel telah memerintahkan penduduk untuk meninggalkan Jabalia, serangan udara dan darat yang sangat agresif membuat kebanyakan warga tidak bisa melarikan diri dengan aman. Quadcopter terus menerbangkan drone di atas kepala mereka, menambah ketegangan dan ketakutan di tengah kekacauan ini.
Jabalia Gaza serangan Israel pengungsi konflik