Gaza Utara mengalami krisis pangan yang serius setelah tidak ada bantuan makanan yang masuk ke wilayah tersebut sejak awal bulan Oktober. Hal ini diungkapkan oleh Badan Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (WFP) pada hari Sabtu.
Antoine Renard, direktur WFP untuk wilayah Palestina, menyatakan bahwa "utara pada dasarnya terputus, dan kami tidak dapat beroperasi di sana." Kondisi ini membuat titik distribusi makanan, dapur, dan toko roti di Gaza utara terpaksa ditutup akibat serangan udara, operasi darat, dan perintah evakuasi yang berkelanjutan.
Satu-satunya toko roti yang masih berfungsi di Gaza utara, yang didukung oleh WFP, mengalami kebakaran setelah terkena ledakan. WFP juga melaporkan bahwa pasokan terakhir yang tersisa di daerah tersebut, termasuk makanan kaleng, tepung, biskuit energi tinggi, dan suplemen gizi, telah didistribusikan. Hal ini mengancam ratusan ribu orang dengan risiko kelaparan.
Dalam pernyataan di media sosial, WFP menegaskan, "Tidak jelas berapa lama pasokan makanan yang masih tersisa di utara, yang sudah didistribusikan ke tempat perlindungan dan fasilitas kesehatan, akan bertahan."
Kekhawatiran akan krisis kelaparan di Gaza kembali muncul setelah penyelidik independen PBB tentang hak atas pangan, Michael Fakhri, pada bulan Agustus lalu, menuduh Israel melakukan "kampanye kelaparan" terhadap rakyat Palestina. Namun, Israel secara berulang kali membantah tuduhan bahwa mereka telah menghalangi atau memperlambat aliran bantuan ke Jalur Gaza.
Gaza bantuan makanan krisis pangan PBB Israel