Menurut laporan terbaru, pemuda di Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem mengurangi penggunaan media sosial sejak perang Israel melawan Gaza dimulai. Mereka merasa khawatir akan kemungkinan konsekuensi negatif dari aktivitas online mereka.
Arab Center for the Advancement of Social Media, yang dikenal juga dengan sebutan 7amleh, mengungkapkan kondisi keamanan digital bagi orang Palestina berusia 15 hingga 30 tahun. Dalam penelitian ini, sebanyak 39 persen responden mengaku telah menghapus unggahan politik dan sosial mereka karena ketakutan. Hal ini menunjukkan bahwa banyak pemuda merasa perlu untuk menjaga diri agar tidak menjadi target.
Selain itu, lebih dari 50 persen pengguna media sosial melaporkan bahwa ada pembatasan di platform digital, termasuk tindakan 'shadow banning' oleh Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram. Tindakan ini berimplikasi pada pengurangan aktivitas mereka di dunia maya.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa separuh dari pengguna telah diperiksa oleh aparat keamanan Israel, atau mengetahui orang lain yang mengalami hal serupa, akibat unggahan mereka di media sosial. Ini menggambarkan bahwa pengguna internet Palestina merasa terancam dalam mengekspresikan diri.
Studi ini didasarkan pada data dari kelompok fokus, survei lapangan, serta tinjauan literatur mengenai keamanan digital dan hak-hak di dunia maya. Temuan ini mengungkapkan berbagai realitas digital yang mengkhawatirkan yang dihadapi oleh pemuda Palestina. Penelitian berjudul “Keamanan Digital di Antara Pemuda Palestina: Sebuah Studi tentang Ancaman dan Tantangan di Tengah Perang Gaza,” menyoroti masalah keamanan digital yang meningkat sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023. Dalam konflik ini, lebih dari 40.000 warga Palestina dilaporkan tewas dan hampir 100.000 lainnya luka-luka.
Laporan juga mencatat bahwa pelanggaran hak digital dilakukan oleh berbagai entitas, termasuk pendudukan Israel, platform digital, otoritas Palestina, serta individu dan perusahaan swasta. Hal ini menunjukkan kompleksitas yang semakin meningkat dalam konteks keamanan digital di Palestina.
Penting untuk dicatat bahwa pemuda Palestina mengakui internet sebagai ruang yang tidak aman, terutama saat membahas isu-isu politik internal dan eksternal terkait Palestina serta pendudukan Israel. Ketidakpahaman akan praktik keamanan digital membuat mereka rentan terhadap berbagai ancaman dan serangan di dunia maya.
kekhawatiran digital pemuda Palestina media sosial