Jakarta - Presiden Joko Widodo menekankan pentingnya hilirisasi, khususnya di sektor pertambangan dan sumber daya alam lainnya, sebagai kunci untuk meningkatkan ekonomi nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan hilirisasi nikel telah terbukti memberikan dampak positif yang signifikan. Pada tahun 2015, nilai ekspor nikel Indonesia hanya mencapai Rp45 triliun. Namun, setelah penerapan kebijakan hilirisasi, nilai ekspor tersebut melonjak drastis menjadi Rp520 triliun pada tahun 2023.
Di akhir bulan September lalu, Presiden Joko Widodo meresmikan tiga smelter mineral baru sebagai bagian dari upaya ini. Ketiga smelter tersebut adalah smelter tembaga milik PT Freeport Indonesia yang berlokasi di Gresik, Jawa Timur, smelter tembaga milik PT Amman Mineral Internasional Tbk di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, dan smelter bauksit milik PT Borneo Alumina Indonesia di Mempawah, Kalimantan Barat.
Kehadiran dan operasional dari ketiga proyek smelter tersebut dianggap sebagai momentum penting bagi Indonesia dalam mendukung program hilirisasi di sektor pertambangan. Nilai investasi dari masing-masing proyek juga sangat besar. Proyek smelter milik Freeport Indonesia menghabiskan investasi sebesar Rp56 triliun, proyek smelter Amman Mineral mencapai Rp21 triliun, dan proyek smelter Borneo Alumina Indonesia sebesar Rp16 triliun.
Dengan adanya smelter ini, diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah dari sumber daya alam Indonesia dan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian negara. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk memaksimalkan potensi sumber daya alam yang dimiliki Indonesia.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai hilirisasi dan dampaknya terhadap ekonomi, pemirsa dapat menyaksikan program Market Review bersama Prasetyo Wibowo pada Jumat, 11 Oktober 2024, pukul 10.00 – 10.30 WIB. Program ini dapat disaksikan secara langsung di IDX Channel dan juga melalui live streaming di www.idxchannel.com.
Hilirisasi Pertambangan Ekonomi Nikel Smelter