Organisasi Welthungerhilfe baru saja merilis laporan terbaru mengenai masalah kelaparan di dunia. Meskipun jumlah orang yang mengalami kelaparan menurun dari 822 juta pada tahun 2018 menjadi 733 juta saat ini, tantangan besar masih menghadang dalam upaya mengatasi masalah ini. Krisis global, seperti konflik bersenjata dan perubahan iklim, telah memberikan dampak negatif terhadap kemampuan penyediaan pangan di banyak negara.
Marlehn Thieme, Presiden Welthungerhilfe, menyatakan bahwa "sangat tidak dapat diterima" bahwa dunia tidak memenuhi komitmennya untuk mengakhiri kelaparan. Meskipun ada beberapa kemajuan yang dicatat, seperti di Mosambik dan Nepal yang berhasil meningkatkan indeks kelaparan mereka sekitar 30 persen sejak tahun 2016, masih banyak negara yang terjebak dalam kesulitan.
Banyak negara yang berpenghasilan rendah harus menggunakan sebagian besar pendapatan mereka untuk membayar utang luar negeri, sehingga tidak memiliki cukup dana untuk pengembangan dan program sosial. Hal ini semakin memperburuk situasi kelaparan di wilayah-wilayah tersebut.
Dalam laporan tahun ini, Welthungerhilfe juga menyoroti pentingnya kesetaraan gender dalam konteks keamanan pangan. Ditemukan bahwa perempuan dan anak perempuan adalah kelompok yang paling terkena dampak kelaparan dan juga lebih parah terpengaruh oleh perubahan iklim. "Norma diskriminatif dan kekerasan membuat akses mereka terhadap sumber daya menjadi sulit, dan membatasi kemampuan mereka untuk menghadapi krisis," lanjut laporan tersebut.
Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun ada beberapa kemajuan, masih banyak yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan mengakhiri kelaparan di seluruh dunia. Krisis yang saling terkait ini memerlukan perhatian dan tindakan yang lebih besar dari komunitas internasional.
kelaparan krisis pangan Welthungerhilfe perempuan perubahan iklim