Gatera, seorang mahasiswa PhD berusia 31 tahun dari Rwanda, saat ini sedang belajar di Universitas Pertanian Anhui yang terletak di Provinsi Anhui, China. Ia pertama kali tiba di Hefei, ibukota Anhui, pada tahun 2019 dengan bantuan beasiswa dari pemerintah China.
Selama liburan musim panas, Gatera dan teman-teman sekelasnya tidak menghabiskan waktu untuk berlibur. Sebaliknya, mereka memilih untuk tetap aktif di laboratorium. Mereka melakukan pengamatan terhadap sampel serbuk sari dan mengumpulkan data eksperimen. Fokus utama penelitian Gatera adalah efek stres panas dan stres kekeringan pada serbuk sari jagung. Melalui penelitian ini, ia bertujuan untuk mengembangkan varietas jagung yang tahan kekeringan dan panas.
Penelitian Gatera sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi dunia saat ini, terutama terkait dengan pemanasan global. Pemanasan global adalah fenomena peningkatan suhu rata-rata Bumi yang dapat mengakibatkan berbagai perubahan iklim yang ekstrem, termasuk kekeringan dan badai. Oleh karena itu, penelitian untuk menemukan varietas tanaman yang dapat bertahan dalam kondisi ini sangat penting.
Gatera terinspirasi oleh ilmuwan legendaris China yang telah meninggal, Yuan Longping. Yuan dikenal sebagai "bapak padi hibrida" karena kontribusinya yang besar dalam pengembangan varietas padi yang lebih produktif. Gatera berharap bahwa hasil penelitiannya dapat membantu Afrika memproduksi lebih banyak makanan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya.
Dengan semangat dan dedikasi, Gatera terus berupaya untuk memberikan dampak positif melalui risetnya dan berkontribusi terhadap solusi dalam menghadapi krisis pangan akibat perubahan iklim.
Gatera jagung penelitian perubahan iklim Anhui