Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Solidaritas Terhadap Masyarakat Adat Poco Leok Terus Bergema

Aksi solidaritas terhadap masyarakat adat Poco Leok di Nusa Tenggara Timur semakin meluas. Aksi ini sebagai bentuk penolakan terhadap kejahatan dan kekerasan yang dialami oleh warga setempat akibat tindakan aparat gabungan dari TNI AD, Polres Manggarai, dan Satpol PP.

Solidaritas ini terlihat di berbagai lokasi, seperti Polda NTT, Gedung DPRD NTT, Kantor Bupati, dan Polres Manggarai. Bahkan, aksi ini juga menjangkau Mabes Polri dan PLN Pusat di Jakarta Selatan.

Sebelumnya, pada tanggal 1 Oktober 2024, PLN dan Pemerintah Kabupaten Manggarai melakukan tindakan paksa untuk masuk ke wilayah Poco Leok. Mereka melakukan pengukuran lahan milik warga dan mengidentifikasi lokasi untuk proyek Geothermal PLTP Ulumbu. Proyek ini direncanakan selesai pada 3 Oktober 2024.

Namun, upaya paksa tersebut telah dihadang oleh ratusan warga dari sepuluh komunitas adat yang ada di Poco Leok. Komunitas-komunitas tersebut meliputi Gendang Mucu, Mocok, Mori, Nderu, Cako, Ncamar, Rebak, Jong, Tere, dan Lungar. Ini merupakan penghadangan yang ke-26 kalinya dilakukan oleh warga sejak tahun 2022.

Seringkali, penghadangan tersebut berujung pada kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan. Brutalitas ini juga disertai dengan tindakan kriminalisasi, di mana tiga warga dan satu jurnalis ditangkap secara sewenang-wenang.

Aksi solidaritas ini menunjukkan bahwa masyarakat adat Poco Leok berjuang untuk hak-hak mereka dan menolak berbagai bentuk kekerasan dari aparat. Masyarakat tetap teguh dalam melawan tindakan yang dianggap merugikan mereka dan berusaha melindungi tanah dan hak-hak mereka.

library_books Jatamnas