Dalam dunia sastra Amerika, dua novel yang sangat berbeda, "Blood Meridian" karya Cormac McCarthy dan "Gilead" karya Marilynne Robinson, menawarkan pandangan yang kontras tentang pengalaman religius di Amerika. Keduanya memberikan perspektif yang unik tentang Tuhan dan kepercayaan, meskipun memiliki pendekatan yang sangat berbeda.
Cormac McCarthy dikenal dengan gaya penulisannya yang gelap dan penuh kekerasan. Dalam "Blood Meridian", ia menggambarkan dunia Barat yang sangat brutal dan tanpa Tuhan. Cerita ini berpusat pada seorang remaja yang terlibat dalam kelompok pemburu kepala di perbatasan Amerika Serikat-Meksiko pada abad ke-19. McCarthy menggunakan bahasa yang kaya dan puitis, mengingatkan pada Alkitab, tetapi dalam narasi ini, tidak ada harapan atau kehadiran Tuhan yang nyata. Hanya karakter bernama Judge, yang memiliki sifat mirip dengan Iblis dalam karya John Milton, yang tampaknya hidup abadi di dunia yang kelam ini.
Sebaliknya, Marilynne Robinson dalam "Gilead" menawarkan pandangan yang jauh lebih optimis tentang kehidupan dan iman. Novel ini ditulis dari sudut pandang seorang pendeta tua yang merenungkan hidupnya dan menyerahkan warisan kepada putranya. Robinson menggambarkan dunia yang penuh dengan keindahan, cinta, dan harapan. Di sini, gambaran surga bukanlah sesuatu yang jauh, melainkan pengalaman terbaik dalam kehidupan ini yang berlipat ganda. Dalam karyanya, dosa dan penderitaan tampak seperti latar belakang yang jauh, sedangkan kebahagiaan kehidupan kelas menengah Amerika menjadi tempat di mana Tuhan hadir.
Meskipun kedua novel ini memiliki tema yang berkaitan dengan agama, keduanya tidak sepenuhnya mencerminkan kepercayaan penulisnya. Robinson adalah seorang Kristen yang menulis dengan semangat harapan, sementara McCarthy tidak menawarkan hal yang sama. Namun, keduanya menunjukkan bahwa, terlepas dari pandangan Nietzsche yang menyatakan bahwa Tuhan telah mati, sosok Tuhan tetap hidup dalam budaya dan sastra kontemporer. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran Tuhan dapat ditemukan dalam karya seni, meskipun tidak selalu terlihat di surga.
Dengan momen penting dalam kalender Yahudi dan mengenang peristiwa 7 Oktober, kini saatnya untuk terus meneruskan perdebatan tentang sosok Tuhan yang misterius ini. Dari kisah-kisah orang-orang kecil dalam sejarah hingga dampaknya di dunia modern, pertanyaan tentang iman dan eksistensi Tuhan tetap relevan dan patut untuk direnungkan.
Cormac McCarthy Marilynne Robinson agama sastra Amerika novel