Ribuan orang di seluruh dunia menggelar aksi protes pada akhir pekan lalu, menyerukan penghentian perang yang terjadi di Gaza dan Lebanon. Aksi ini dilakukan menjelang peringatan satu tahun perang antara Israel dan Hamas.
Di London, Inggris, sekitar 40.000 orang mengikuti "National March for Palestine" di pusat kota pada hari Sabtu. Para penyelenggara menyatakan bahwa selama protes tersebut, terlihat beberapa kelompok kontra-demonstrasi yang mengibarkan bendera Israel. Kepolisian melaporkan ada 15 orang yang ditangkap di sekitar lokasi protes, meskipun tidak dijelaskan apakah mereka berasal dari kelompok pro atau kontra.
Di Dublin, ibukota Irlandia, para pengunjuk rasa menuduh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan Presiden AS, Joe Biden, sebagai "penjahat perang". Aksi protes ini menegaskan ketidakpuasan terhadap kebijakan mereka terkait konflik tersebut.
Sementara itu, di Roma, Italia, sekitar 6.000 pengunjuk rasa melanggar larangan untuk berunjuk rasa di pusat kota. Ketika bentrokan pecah, polisi terpaksa menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan kerumunan.
Demonstrasi juga terjadi di berbagai kota lain seperti Los Angeles, Jakarta, Cape Town, dan Seoul. Di Berlin, Jerman, sekitar seribu orang menggelar protes pada hari Sabtu, dan jumlahnya meningkat menjadi sekitar 3.500 orang pada hari Minggu, menurut media setempat. Di kedua hari tersebut, polisi menerjunkan ratusan anggotanya untuk menjaga keamanan dan melaporkan beberapa bentrokan serta penangkapan yang terjadi.
Selama satu tahun terakhir, pemerintah Jerman dan berbagai institusi di negara tersebut mendapat kritik karena dianggap terlalu ketat dalam menangani isu antisemitisme. Protes ini menyoroti ketegangan yang semakin meningkat di banyak negara terkait masalah konflik di Timur Tengah.
protes Gaza Lebanon Israel Hamas demonstrasi perdamaian