Kanselir Jerman, Olaf Scholz, memberikan pernyataan dukungan penuh kepada komunitas Yahudi di Jerman pada peringatan serangan Hamas terhadap Israel yang terjadi setahun lalu. Dalam podcast terbarunya, Scholz mengungkapkan bahwa banyak orang di Jerman merasa prihatin atas perkembangan konflik yang terjadi di Timur Tengah.
Scholz mengatakan, "Mereka menderita dan mengungkapkan kekhawatiran mereka. Bagaimana mungkin hal ini tidak terjadi?" Dia menegaskan pentingnya diskusi dalam masyarakat yang bebas, di mana orang-orang dapat berdebat dan berbagi pandangan mereka sebagai bagian dari demokrasi.
Namun, dia juga menekankan bahwa tidak seharusnya warga yang beragama Yahudi di Jerman hidup dalam ketakutan. "Tidak seharusnya ada orang yang merasa takut untuk keluar rumah dengan mengenakan kippa, atau mahasiswa yang ragu untuk mengungkapkan identitas Yahudi mereka," tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Kanselir Scholz juga menyerukan agar terjadi gencatan senjata di Timur Tengah. Gencatan senjata ini diharapkan dapat melindungi warga sipil di Jalur Gaza dan membantu pembebasan sandera Israel. Menurut Scholz, situasi di wilayah tersebut tidak semakin baik dan ancaman konflik besar di seluruh kawasan tetap ada. Oleh karena itu, Jerman bersama mitra internasionalnya berusaha mencegah terjadinya konflik yang lebih luas.
Pada tanggal 7 Oktober 2023, serangan teroris oleh Hamas dan kelompok ekstremis lainnya menewaskan lebih dari 1.200 orang di Israel dan menculik sekitar 250 orang ke Jalur Gaza. Kejadian ini memicu perang Gaza, di mana menurut laporan dari otoritas kesehatan yang dikuasai Hamas, sekitar 42.000 warga Palestina, termasuk sepertiga di antaranya adalah anak-anak dan remaja, telah tewas hingga saat ini.
Pernyataan ini menunjukkan betapa pentingnya solidaritas terhadap komunitas Yahudi dan perlunya langkah-langkah untuk melindungi semua warga negara tanpa terkecuali.
Kanselir Olaf Scholz Yahudi Jerman konflik Gaza