Musim panen zaitun telah dimulai di Palestina, dan keluarga Hasem Salama pergi ke ladang mereka di desa al-Lubban al-Gharbi, yang terletak di barat laut Ramallah, Tepi Barat yang diduduki. Namun, setibanya di lokasi pada pagi hari Sabtu, mereka dihadapkan pada situasi yang sangat mengerikan.
Lebih dari 50 pemukim Israel yang mengenakan topeng dan bersenjata muncul dan langsung menyerang mereka tanpa alasan yang jelas. Dalam serangan itu, sebanyak 11 orang terluka, termasuk wanita dan seorang anak. Hasem Salama melaporkan bahwa keponakannya yang berusia tujuh tahun mengalami memar setelah dipukul tanpa ampun.
"Dua orang wanita juga mengalami cedera pada tangan mereka akibat serangan yang brutal ini," tambah Salama kepada Middle East Eye. Ketika keluarga Salama berusaha membela diri, para pemukim semakin memperkeras serangan mereka dengan menggunakan pipa besi.
Banyak orang mengalami patah tulang, termasuk Salama sendiri yang terluka di kakinya sehingga tidak bisa berdiri. Kejadian ini menambah daftar panjang serangan yang telah dialami oleh warga Palestina saat memanen zaitun.
Tentara Israel akhirnya tiba di lokasi kejadian, tetapi menurut saksi mata, mereka justru berpihak pada para pemukim. Mereka membantu mengusir warga Palestina dari area tersebut tanpa menangkap satu pun pelaku serangan.
"Ini bukan kali pertama kami diserang saat memanen zaitun, tetapi ini adalah yang paling brutal," kata Jasser Samhan, seorang pemilik tanah di desa tersebut. "Tentara mendukung mereka dan melepaskan bom suara untuk memaksa kami meninggalkan tanah dan pohon kami."
Kejadian ini menyoroti ketegangan yang terus berlanjut di wilayah tersebut, di mana warga Palestina sering kali menjadi korban kekerasan saat berusaha mengakses tanah pertanian mereka.
Palestina panen zaitun pemukim Israel serangan Ramallah