Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kini menghadapi tantangan besar setelah serangan yang dilakukan oleh Hamas pada tanggal 8 Oktober. Sebelumnya, Netanyahu menerapkan strategi untuk menahan masalah Palestina dengan mengepung Gaza dan bekerja sama dengan Otoritas Palestina untuk mempercepat kolonisasi di Tepi Barat, sembari menjalin hubungan normal dengan negara-negara Arab. Namun, serangan ini mengubah segalanya.
Setelah serangan tersebut, Netanyahu dan para sekutunya mengambil kebijakan perang total melawan Palestina dan mempercepat proses kolonisasi di wilayah yang diduduki. Dalam situasi ini, Netanyahu tampaknya semakin dekat dengan impiannya untuk menciptakan perang regional antara Iran dan Amerika Serikat, yang dianggap sebagai momen keberhasilannya.
Sementara itu, Iran menunjukkan kekuatannya dengan meluncurkan serangan misil yang menghujani Tel Aviv dan menargetkan pangkalan militer Israel. Meskipun tidak ada korban sipil yang dilaporkan, strategi perang Israel yang dianggap genosida tetap menjadi sorotan dunia.
Hanya sehari setelah serangan misil Iran, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, bertemu dengan Presiden Iran di Doha. Dalam pertemuan tersebut, ia menyatakan, "Kami berniat menutup buku mengenai perbedaan dengan Iran selamanya." Hal ini menunjukkan bahwa situasi baru di Timur Tengah tidak sesuai dengan apa yang diharapkan Netanyahu.
Kekosongan kekuatan militer Israel, terlepas dari banyaknya korban yang jatuh, dan kenyataan isolasi yang dihadapi kini menjadi jelas bagi semua pihak. Bagi Netanyahu, yang dianggap sebagai penjudi, perang skala penuh di Timur Tengah adalah taruhan terakhirnya. Namun, situasi ini bisa saja membawa Israel pada kehancuran, jauh dari apa yang dia harapkan.
Netanyahu Palestina Gaza Iran perang Timur Tengah