Klarna, sebuah platform asal Swedia yang terkenal dengan layanan "buy-now-pay-later", mengumumkan rencana besar untuk memotong jumlah karyawan mereka hingga 50 persen dalam beberapa tahun ke depan. CEO Klarna, Sebastian Siemiatkowski, mengungkapkan bahwa perusahaan berharap untuk mengurangi staf dari 3.800 menjadi 2.000 karyawan.
Keputusan ini mengikuti pemangkasan karyawan sebelumnya, di mana jumlah karyawan telah berkurang dari 5.000 setelah Klarna melakukan pemecatan massal tahun lalu. Dengan pemangkasan yang signifikan ini, Klarna berencana untuk mengalihkan tanggung jawab layanan pelanggan dan pemasaran ke dalam kecerdasan buatan (AI).
SIemiatkowski menerangkan, “Tidak hanya kami bisa melakukan lebih banyak dengan lebih sedikit, tetapi kami bisa melakukan jauh lebih banyak dengan lebih sedikit.” Pernyataan ini menunjukkan optimisme tinggi terhadap potensi AI dalam meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.
Namun, banyak ahli ekonomi memandang strategi ini sebagai risiko yang besar. Sebuah laporan dari Goldman Sachs menyatakan bahwa terdapat "kemungkinan terbatas untuk keuntungan ekonomi di AS dari AI." Selain itu, pengalaman di masa lalu menunjukkan bahwa otomatisasi beberapa layanan, seperti mesin pembayar mandiri dan layanan pelanggan, terkadang dapat menimbulkan masalah baru.
Dengan begitu, meskipun Klarna berambisi untuk memanfaatkan kecerdasan buatan, mereka juga harus mempertimbangkan kemungkinan risiko yang menyertainya. Hal ini menjadi peringatan bagi perusahaan lain yang ingin mengikuti jejak Klarna dalam mengimplementasikan teknologi canggih.
Klarna pemangkasan karyawan kecerdasan buatan