Generasi Z, yang terdiri dari orang-orang yang kini berusia antara 18 hingga 25 tahun, menunjukkan perubahan besar dalam cara mereka mengelola waktu kerja. Mereka mengutamakan kesehatan mental dan kesejahteraan pribadi dengan menciptakan batasan yang jelas, yaitu tidak bekerja ketika merasa tidak mampu.
Sebuah laporan dari Gusto, sebuah platform sumber daya manusia, menunjukkan bahwa pekerja berusia 25 hingga 34 tahun mengambil lebih banyak cuti sakit dibandingkan pekerja yang lebih tua. Data dari Dayforce, platform HR lainnya, menunjukkan bahwa pekerja yang berusia 35 tahun ke bawah mengalami lonjakan cuti sakit sebesar 29% sejak tahun 2019, sedangkan pekerja di atas 35 tahun hanya mengalami peningkatan sebesar 16%.
Menurut Liz Wilke, seorang ekonom utama di Gusto, terdapat "pergeseran generasional menuju keseimbangan antara kehidupan kerja dan perhatian terhadap diri sendiri." Ia menjelaskan bahwa generasi muda, termasuk Gen Z dan para milenial yang lebih tua, lebih memprioritaskan kesejahteraan psikologis dan fisik mereka.
Perubahan ini menggambarkan semangat Generasi Z yang berusaha untuk lebih terhubung dengan diri mereka sendiri dan memenuhi kebutuhan mental mereka, mengingat betapa pentingnya kesehatan mental di masyarakat masa kini.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang mengapa Generasi Z merasa lebih terdorong untuk mengambil cuti dari pekerjaan dibandingkan rekan-rekan mereka yang lebih tua, Anda dapat mencari informasi lebih lanjut melalui sumber terpercaya.
Perubahan ini bisa berdampak besar terhadap cara perusahaan beroperasi dan berusaha untuk mendukung karyawan mereka, serta mengadopsi kebijakan yang lebih fleksibel untuk menjaga kesejahteraan secara keseluruhan.
generasi Z cuti sakit keseimbangan kerja