Pada hari Selasa, pekerja pelabuhan di 36 pelabuhan dari Texas hingga Maine melakukan pemogokan setelah kontrak kerja mereka berakhir. Akibatnya, crane besar di pelabuhan berhenti beroperasi untuk memuat dan membongkar barang. Beberapa kapal yang tidak sempat masuk pelabuhan terpaksa berlabuh di lepas pantai, dan beberapa bahkan memilih untuk berlayar ke Meksiko.
Asosiasi Pekerja Pelabuhan Internasional (International Longshoremen Association), yang merupakan serikat pekerja para dockers, telah menyebabkan gangguan dalam pengiriman barang senilai miliaran dolar selama musim pengiriman yang sibuk. Sekitar 60% perdagangan barang dalam kontainer di Amerika terkena dampak dari pemogokan ini. Enam dari sepuluh pelabuhan tersibuk di Amerika Utara terpaksa tutup akibat aksi mogok ini.
Menurut Adam Kamins, seorang ekonom di Moody’s Analytics, jika pemogokan ini berlangsung lebih dari satu atau dua minggu, hal itu dapat menyebabkan kekurangan barang dan tekanan harga. Ia memperingatkan bahwa bahkan peningkatan inflasi yang kecil dapat memaksa Federal Reserve untuk lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.
Harold Daggett, ketua Asosiasi Pekerja Pelabuhan Internasional, menyampaikan kepada rekan-rekan serikatnya bahwa pemogokan ini—yang merupakan yang pertama di pantai timur dan teluk sejak tahun 1977—dapat berlangsung hingga tiga minggu dan menyatakan, "Kami akan mendapatkan kontrak yang hebat."
Pemogokan ini menjadi berita penting karena dampaknya yang luas terhadap perdagangan barang, terutama pada saat banyak barang yang dibutuhkan masyarakat sedang dalam perjalanan. Ketika pelabuhan tutup, barang-barang yang sangat dibutuhkan seperti makanan, pakaian, dan barang elektronik bisa mengalami keterlambatan pengiriman, yang akan berpengaruh pada harga di pasaran.
pekerja pelabuhan pemogokan perdagangan Amerika