BEIJING – Di tengah perayaan 75 tahun berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, berbagai tampilan dan dekorasi telah muncul di seluruh Beijing. Perayaan ini menandai perjalanan panjang pemerintahan Komunis yang telah berlangsung sejak tahun 1949. Namun, di balik kemeriahan tersebut, terdapat kekhawatiran yang mendalam dari pemimpin Tiongkok, Xi Jinping, tentang masa depan kepemimpinan partai.
Meskipun Tiongkok merayakan pencapaian besar, media negara tidak menyinggung tentang peristiwa penting lainnya yaitu keruntuhan Uni Soviet, yang terjadi setelah 74 tahun pemerintahan Komunis di Moskow. Peristiwa ini menjadi pengingat bagi Xi Jinping akan kemungkinan adanya keruntuhan yang serupa di Tiongkok.
Xi Jinping, yang telah memimpin Tiongkok selama lebih dari dua belas tahun, telah melakukan berbagai langkah untuk memperkuat kekuasaannya. Ia melakukan pembersihan terhadap para pesaing dan meluncurkan kampanye tanpa henti untuk memastikan loyalitas mutlak dari semua anggotanya. Meskipun demikian, ia masih merasa khawatir tentang kemungkinan adanya dekadensi dalam partai, mirip dengan apa yang terjadi pada Uni Soviet.
Kekhawatiran ini muncul karena Xi memperhatikan bagaimana partai-partai dapat kehilangan disiplin ideologis dan organisasi, yang pada akhirnya dapat berujung pada keruntuhan. Dalam konteks ini, penting untuk mencermati bagaimana kepemimpinan Xi berusaha untuk menjaga kekuasaan dan stabilitas di Tiongkok.
Perayaan ini menjadi simbol kekuatan dan ketahanan partai Komunis Tiongkok, tetapi juga menjadi pengingat akan tantangan yang dihadapi oleh Xi Jinping dalam mempertahankan kekuasaan di tengah ancaman yang mungkin muncul di masa depan.
Tiongkok Xi Jinping perayaan Komunis Moskow