Dalam menghadapi pemilihan umum 2024, politisi dihadapkan pada tantangan besar dalam menggunakan media sosial untuk menarik perhatian pemilih, terutama di kalangan generasi muda. Di era digital ini, sangat penting bagi para kandidat untuk memanfaatkan internet, mengingat jutaan pemilih Gen Z akan memberikan suara untuk pertama kalinya.
Namun, ada risiko besar ketika kampanye politik berusaha terlalu keras untuk menjadi "Terlalu Online". Hal ini dapat membingungkan antara suara online yang ramai dengan pendekatan yang bermakna, serta menganggap masalah pinggiran sebagai isu yang nyata. Politisi juga harus berhati-hati agar keterlibatan di media sosial tidak dipandang sebagai publikasi yang baik.
Kampanye Kamala Harris, misalnya, telah mengadopsi tren internet populer seperti "Brat Summer" dan suara viral TikTok seperti "Femininomenon" dari Chappell Roan untuk menarik pemilih muda. Sementara itu, kampanye Donald Trump cenderung beralih ke meme yang kontroversial dan berbahaya, seperti klaim tanpa dasar tentang imigran Haiti yang memakan hewan peliharaan, yang dianggap sebagai isu penting bagi para pendukungnya.
Perbedaan antara kedua pendekatan ini sangat mencolok. Harris berisiko terlihat berlebihan atau terlalu fokus pada pemilih online, sementara Trump mendorong ide-ide berbahaya dan sering kali tidak benar untuk membangkitkan dukungan dari pengikutnya yang fanatik.
Meskipun meme dapat menghibur, untuk sebagian besar pemilih, hal tersebut tidak akan mengubah pilihan suara mereka. Bahkan pemilih muda pun kemungkinan besar tidak akan memilih hanya berdasarkan kehadiran online kandidat.
Fokus yang berlebihan pada meme juga membuka peluang untuk kesalahan, seperti yang terjadi pada momen "Pokémon Go to the polls" yang tidak berhasil. Ada garis tipis antara menjadi cerdas dalam menggunakan media sosial dan kehilangan pandangan terhadap hal-hal yang benar-benar penting bagi konstituen. Kampanye Harris berisiko jatuh ke dalam kategori yang kedua dengan obsesi pada meme, sementara kampanye Trump telah terjerumus terlalu dalam ke dalam teori konspirasi internet.
Dari sini, penting bagi para kandidat untuk sedikit "log off" dari dunia maya — menyentuh dunia nyata, bisa dibilang — atau yang lebih penting, keluar dan bertemu dengan masyarakat secara langsung. Dalam dunia politik, koneksi yang nyata dan interaksi langsung dengan pemilih tetap menjadi hal yang tak tergantikan.
kampanye politik media sosial pemilih muda Gen Z Kamala Harris Donald Trump