Kamala Harris saat ini memiliki keunggulan empat poin atas Donald Trump dalam beberapa survei nasional. Namun, meskipun Harris tampil lebih baik dalam angka tersebut, hal ini tidak menjamin kemenangan dalam pemilihan presiden Amerika Serikat. Penyebabnya adalah sistem pemilihan yang menggunakan electoral college, yang menentukan pemenang berdasarkan suara elektoral, bukan hanya suara populer.
Sistem ini memiliki cara kerja yang unik. Setiap negara bagian dan Distrik Columbia mendapatkan jumlah suara elektoral yang sesuai dengan populasi mereka. Untuk bisa menjadi presiden, Harris memerlukan setidaknya 270 suara elektoral.
Namun, dalam sistem ini, hanya ada tujuh negara bagian yang benar-benar kompetitif, yang bisa mempengaruhi hasil akhir pemilihan. Oleh karena itu, meskipun Harris unggul dalam survei, persaingan di tujuh negara bagian ini akan sangat menentukan siapa yang akan menang pada pemilihan mendatang.
Analisis dari model ramalan The Economist menunjukkan bahwa saat ini perlombaan menuju kursi kepresidenan masih sangat ketat dan dapat berubah sewaktu-waktu. Para pemilih di negara bagian yang kompetitif ini akan menjadi fokus utama bagi kedua kandidat.
Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai bagaimana masing-masing kandidat tampil di negara bagian yang kompetitif ini, silakan ikuti perkembangan berita selanjutnya.
Kamala Harris Donald Trump pemilihan presiden survei electoral college