Militer Israel baru saja melakukan serangan besar-besaran terhadap fasilitas-fasilitas milik kelompok Huthi di Yaman. Serangan ini dianggap sebagai yang terkuat yang pernah dilakukan oleh Israel terhadap posisi Huthi, yang terletak sekitar 2.000 kilometer dari wilayah Israel. Dikatakan bahwa puluhan pesawat tempur dan jet tempur terlibat dalam serangan ini.
Menurut seorang juru bicara militer Israel, serangan tersebut fokus pada beberapa lokasi penting di Yaman, termasuk pembangkit listrik serta pelabuhan di Hudeida dan Ras Issa. Daerah-daerah ini dikenal sebagai jalur masuk senjata yang dikirim oleh Iran kepada kelompok Huthi.
Meskipun demikian, informasi tentang serangan ini sulit untuk diverifikasi secara independen. Israel menegaskan bahwa mereka tidak ingin memperluas konflik, tetapi akan memberikan respons jika mereka diserang. Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, menyatakan, "Kami tidak memiliki kepentingan untuk memperluas perang dan tidak ingin membuka front baru. Namun, jika ada yang menyerang Israel, seperti yang dilakukan Huthi dengan roket dan drone, kami akan mengambil tindakan."
Sementara itu, Kementerian Kesehatan yang dikelola oleh Huthi melaporkan bahwa serangan di pelabuhan Hodeidah telah menyebabkan sedikitnya empat orang tewas dan 29 lainnya terluka. Namun, data ini juga tidak dapat diverifikasi secara independen.
Kelompok Huthi, yang didukung oleh Iran dan Hezbollah dari Lebanon, telah menguasai sebagian besar wilayah Yaman sejak mereka merebut ibu kota, Sanaa, pada tahun 2014. Sejak 7 Oktober 2023, kelompok Huthi telah mengumumkan solidaritas mereka dengan Hamas dan melancarkan serangan terhadap Israel. Selain itu, mereka juga diketahui telah menyerang kapal-kapal dagang di Laut Merah.
Konflik di Yaman dan serangan ini menunjukkan kompleksitas dan dampak dari ketegangan di kawasan tersebut, yang melibatkan berbagai aktor internasional. Dengan situasi yang terus berkembang, banyak yang berharap agar ketegangan ini tidak semakin memburuk.
Israel Huthi Yaman serangan konflik