Di Amerika Serikat, gereja, sinagoga, dan masjid memiliki jutaan hektar tanah, tetapi biasanya mereka dilarang membangun rumah di tanah tersebut. Baru-baru ini, ada kabar baik dari pemerintah pusat. Para anggota kongres mengusulkan sebuah undang-undang bernama "Faith in Housing Act" yang akan membantu tempat ibadah membangun rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Undang-undang ini adalah bagian dari gerakan besar bernama "YIGBY" atau "Yes in God’s Backyard". Gerakan ini ingin mengatasi dua masalah besar di negara itu, yaitu kekurangan rumah yang murah dan biaya hidup yang terus naik.
Dalam usulan ini, pemerintah akan memberi kekuasaan lebih kepada kongres untuk mengesampingkan aturan lokal tentang pembangunan rumah. Biasanya, aturan ini dibuat oleh pemerintah kota atau desa untuk mengatur bangunan di daerah mereka. Tetapi dengan undang-undang ini, tempat ibadah akan bisa membangun rumah yang diperuntukkan bagi keluarga berpenghasilan rendah.
Rumah yang akan dibangun harus rata-rata mampu dihuni oleh keluarga dengan penghasilan sampai 140 persen dari pendapatan rata-rata di daerah tersebut. Sebagian kecil, sekitar 5 persen, dari rumah yang dibangun bisa digunakan untuk staf dan pemimpin agama. Namun, sisanya harus terbuka untuk siapa saja, tanpa memandang agama mereka.
Gerakan ini penting karena banyak tempat ibadah yang memiliki tanah luas, tetapi tidak bisa membangun rumah. Dengan adanya undang-undang ini, diharapkan akan lebih banyak rumah murah yang bisa dibangun, sehingga membantu masyarakat yang membutuhkan.
Ini adalah langkah penting yang menunjukkan bagaimana agama dan pemerintah bisa bekerja sama untuk membantu masyarakat dalam mengatasi masalah kekurangan tempat tinggal yang terjangkau.
hukum rumah murah tempat ibadah pembangunan Amerika Serikat