Seorang pria bernama Sean Aaron Smith melakukan aksi pembakaran 22 menara 5G secara sendirian dari dalam penjara. Ia memulai aksi ini karena percaya bahwa teknologi 5G adalah bagian dari rencana global untuk mengendalikan manusia. Smith, yang awalnya tidak peduli politik, berubah menjadi penentang keras 5G saat pandemi COVID-19 menyebar. Ia percaya bahwa 5G akan membuat manusia menjadi zombie dan mengikuti konspirasi yang ia percayai.
Awalnya, Smith menyelidiki menara 5G dengan cara menyelinap ke dekat dan membayangkan api yang membesar di atas menara. Pada 10 April 2021, ia melemparkan bom molotov ke salah satu menara, tetapi hanya menyebabkan kerusakan kecil dan membuatnya kehilangan lighter berwarna hijau muda saat melarikan diri.
Setelah itu, Smith memperbaiki strategi dan dalam waktu enam minggu, ia berhasil membakar beberapa menara lagi tanpa tertangkap. Bahkan, pernah terjadi kecelakaan saat ia membakar menara hingga membakar rambut dan wajahnya sendiri. Meski begitu, ia tetap bertekad melanjutkan aksi ini karena merasa bahwa tindakannya memberi makna dalam hidupnya.
Pada akhirnya, aksi Smith di bulan berikutnya mengarah ke penangkapan. Ia membakar menara dekat sebuah toko besar, Walmart, dan dari rekaman CCTV, polisi berhasil menangkapnya. Kini, Smith masih mengkritik teknologi 5G, tetapi kekhawatirannya beralih ke kecerdasan buatan (AI). Ia khawatir AI akan membuat manusia menjadi subordinat bagi mesin, dan menyesalkan sikap pemerintah yang dianggapnya membiarkan perusahaan AI besar mengendalikan manusia.
Cerita Sean Aaron Smith menjadi contoh nyata tentang bahaya ekstremisme dan pentingnya kewaspadaan terhadap penyebaran konspirasi yang berbahaya.
5G arson kriminal teknologi konspirasi AI FBI penjara