Sebanyak 15 pekerja tambang dilaporkan meninggal dunia akibat tertimbun tanah longsor di kawasan pertambangan Nagari Sungai Abu, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Kejadian ini terjadi pada hari Jumat, dan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Solok, Irwan Efendi, memberikan informasi bahwa jumlah korban yang meninggal dunia diperkirakan mencapai 15 orang hingga saat ini.
"Sebanyak 25 orang masih tertimbun," kata Irwan Efendi saat memberikan keterangan kepada wartawan di Solok. Tim pencarian yang berada di lokasi melaporkan bahwa proses evakuasi sangat sulit karena lokasi longsor yang sulit dijangkau. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai lokasi longsor tersebut dapat mencapai 4 jam perjalanan.
Menurut informasi dari tim yang berada di lapangan, longsor ini terjadi secara tiba-tiba dan mengakibatkan sejumlah pekerja tertimbun di bawah tanah. Pekerja yang berada di lokasi tambang saat kejadian tidak memiliki waktu untuk menyelamatkan diri.
Bencana ini menjadi salah satu peringatan akan pentingnya keselamatan kerja di area pertambangan. Tanah longsor adalah kejadian alam yang dapat terjadi kapan saja, terutama di daerah yang memiliki struktur tanah yang tidak stabil. Dalam situasi seperti ini, sangat penting bagi para pekerja dan pengelola tambang untuk selalu memperhatikan keselamatan dan melakukan prosedur yang benar dalam menghadapi risiko bencana.
Keberadaan tim SAR (Search and Rescue) di lokasi sangat dibutuhkan untuk membantu mencari dan menyelamatkan korban yang masih tertimbun. Masyarakat setempat juga berdoa agar semua korban dapat ditemukan dan evakuasi berjalan dengan lancar.
Bencana tanah longsor ini menunjukkan betapa rentannya daerah-daerah pertambangan terhadap bencana alam. Diharapkan kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk lebih waspada dan memperhatikan keselamatan di tempat kerja.
longsor tambang Solok pekerja bencana