Pada hari Minggu yang lalu, setidaknya 18 warga Palestina di Gaza meninggal dunia akibat kelaparan. Hal ini terjadi di tengah penerapan kebijakan kelaparan sistematis oleh Israel terhadap dua juta penduduk di wilayah tersebut.
Kondisi di Gaza semakin memprihatinkan. Banyak orang yang harus menghadapi kenyataan pahit bahwa mereka tidak mendapatkan makanan yang cukup untuk bertahan hidup. Bayangkan bagaimana rasanya ketika seseorang menghabiskan napas terakhirnya karena kelaparan. Ini adalah sebuah pertanyaan yang sulit untuk dibayangkan.
Setiap kali ada kabar kematian baru akibat kelaparan, kita seolah terjebak dalam lingkaran tanpa akhir. Pikiran tentang apa yang dirasakan oleh mereka di saat-saat terakhirnya selalu menghantui. Banyak orang di Gaza memiliki pemikiran yang sama tentang bagaimana rasanya menghadapi kematian akibat serangan udara. Namun, kematian karena kelaparan memiliki nuansa yang berbeda.
Seorang penulis, Maha Hussaini, mengungkapkan bahwa bayangannya tentang orang yang terbaring di tempat tidur, mati dalam keheningan, sangat menyedihkan. Keheningan itu lebih kuat daripada suara ledakan yang terus menerus mengguncang Gaza. Keheningan ini juga menyebabkan perbatasan tetap tertutup, dan makanan tidak dapat masuk ke wilayah tersebut.
Hussaini bertanya-tanya, bagaimana perasaan mereka yang telah selamat dari ribuan serangan udara, hanya untuk mati karena tidak mendapatkan kalori yang cukup untuk bertahan hidup. Apakah mereka merasa dikhianati oleh kemanusiaan? Atau hanya memikirkan makanan, membayangkan diri mereka duduk di meja makan bersama keluarga, dikelilingi oleh makanan hangat dan tawa?
Kehidupan di Gaza saat ini sangat sulit, dan banyak yang berharap agar situasi ini segera membaik. Dengan banyaknya kematian akibat kelaparan, penting bagi kita untuk memahami apa yang terjadi dan berusaha membantu mereka yang membutuhkan.
Gaza kelaparan Palestina kematian Israel