Otoritas Prancis telah memulai penyelidikan resmi terhadap Pavel Durov, CEO aplikasi pesan Telegram. Hal ini terkait dengan dugaan bahwa dia memungkinkan aktivitas kriminal di platformnya.
Seorang hakim menyatakan bahwa Durov dicurigai terlibat dalam pengelolaan sebuah platform daring yang memungkinkan transaksi ilegal. Transaksi ini meliputi gambar penyalahgunaan seks anak, perdagangan narkoba, dan penipuan. Ini merupakan isu serius karena bisa membahayakan pengguna, terutama anak-anak.
Selain itu, Durov juga sedang diselidiki karena diduga menolak untuk bekerja sama dengan pihak berwenang dalam menyelidiki kasus ini.
Setelah ditangkap di Bandara Le Bourget, dekat Paris, Durov menghabiskan empat hari dalam tahanan. Dia kemudian dibebaskan dengan jaminan senilai lima juta Euro. Namun, dia dilarang meninggalkan negara itu dan harus melapor ke polisi dua kali seminggu.
David-Olivier Kaminski, pengacara Durov, mengatakan bahwa tuduhan tersebut sangat tidak masuk akal. "Sangat berlebihan untuk menyatakan bahwa kepala jejaring sosial seperti klien saya dapat terlibat dalam tindakan kriminal," katanya. Dia menambahkan bahwa Telegram sepenuhnya mematuhi peraturan Eropa mengenai dunia digital dan memiliki aturan moderasi yang mirip dengan jejaring sosial lainnya.
Penangkapan Durov telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan para pembela kebebasan berbicara. Ini memicu perdebatan tentang sejauh mana perusahaan teknologi harus bertanggung jawab atas konten yang ada di media sosial. Banyak yang beranggapan bahwa meskipun platform besar seperti Telegram memiliki peran dalam mengawasi kontennya, tanggung jawab akhir tetap berada di tangan penggunanya.
Kasus ini menjadi sorotan banyak pihak karena menunjukkan tantangan yang dihadapi oleh kerajaan teknologi modern dalam menyeimbangkan privasi pengguna dan tanggung jawab sosial.
Pavel Durov Telegram investigasi Prancis