Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock, mengajak dunia untuk memilih seorang wanita sebagai Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk pertama kalinya. Dalam pidatonya di debat umum PBB di New York, Baerbock menekankan pentingnya mewakili perempuan di posisi tersebut, mengingat setidaknya 50 persen dari populasi di setiap negara adalah perempuan.
"Dalam 80 tahun sejarah PBB, kita belum pernah memiliki seorang wanita sebagai Sekretaris Jenderal," kata Baerbock. Pernyataan ini menunjukkan ketidakadilan yang ada dalam organisasi yang seharusnya menjadi contoh untuk kesetaraan dan keadilan di seluruh dunia.
Baerbock juga menambahkan, "Kita sudah saatnya berlatih mengatakan, 'Ibu Sekretaris Jenderal, silakan Anda berbicara,' karena Sekretaris Jenderal berikutnya haruslah seorang wanita." Saat ini, Sekretaris Jenderal PBB adalah António Guterres dari Portugal, yang telah menjabat sejak 2017. Guterres akan mengakhiri masa jabatannya pada tahun 2026 dan telah menyatakan dukungannya untuk seorang wanita sebagai penggantinya.
Namun, hingga saat ini, sudah ada sembilan orang yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PBB, dan semuanya adalah laki-laki. Dalam pembicaraan di kalangan pejabat PBB, ada kemungkinan besar bahwa calon pengganti Guterres akan berasal dari negara-negara yang sering disebut sebagai "global south" atau negara-negara berkembang. Salah satu nama yang sering muncul adalah Mia Mottley, Perdana Menteri Barbados.
Usulan Baerbock ini diharapkan dapat mendorong perubahan dan memberikan semangat kepada perempuan di seluruh dunia untuk lebih terlibat dalam posisi kepemimpinan, terutama dalam organisasi internasional seperti PBB. Dengan langkah ini, diharapkan PBB bisa lebih mencerminkan keragaman dan kesetaraan yang diinginkan di dunia.
Baerbock PBB Sekretaris Jenderal wanita Guterres