Mahasiswa dan serikat pekerja di Jerman mengungkapkan kekecewaan mereka terkait reformasi BAföG yang dianggap sudah lama tertunda. Mereka mengajukan pengaduan kepada PBB untuk menilai apakah Jerman telah memenuhi komitmennya dalam pendidikan sesuai dengan UN-Sozialpakt. Saat ini, hanya 12 persen mahasiswa di Jerman yang mendapatkan bantuan BAföG untuk membiayai studi mereka.
Dalam koalisi pemerintahan, antara partai Union dan SPD, terdapat kesepakatan untuk meningkatkan tunjangan biaya tinggal yang termasuk dalam BAföG dari 380 Euro per bulan menjadi 440 Euro pada semester musim dingin 2026/2027. Selain itu, kebutuhan dasar BAföG yang saat ini sebesar 475 Euro per bulan direncanakan akan meningkat dalam dua tahap mulai tahun 2027.
Namun, GEW (serikat pekerja pendidikan) dan fzs (federasi mahasiswa) meminta pemerintah Jerman untuk segera melakukan perbaikan struktural pada sistem BAföG sebelum pemeriksaan oleh PBB dilakukan. Mereka ingin menghindari kritik dari badan internasional tersebut.
Di samping BAföG, mahasiswa juga memiliki opsi untuk menggunakan pinjaman studi sebagai sumber pembiayaan. Sayangnya, jumlah mahasiswa yang memilih jalur ini mengalami penurunan yang signifikan. Menurut laporan dari Centrum für Hochschulentwicklung (CHE), pada tahun 2024, terdapat 12.965 kontrak baru untuk pinjaman studi, yang berarti berkurang sekitar 3.600 dibandingkan tahun sebelumnya.
Lebih jauh lagi, dalam periode 2014 hingga 2024, jumlah pinjaman studi yang baru disetujui telah menurun hingga 78 persen. Salah satu penyebab utama penurunan ini adalah syarat yang tidak menguntungkan dan tingkat bunga yang tinggi pada pinjaman studi KfW.
Situasi ini menunjukkan perlunya perhatian serius terhadap pembiayaan pendidikan di Jerman, agar lebih banyak mahasiswa dapat menyelesaikan studi mereka tanpa beban keuangan yang berat.
BAföG mahasiswa pendidikan Jerman serikat pekerja