Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Pertumbuhan Investasi di Probolinggo Mencapai Rp 700 Miliar pada Semester Awal 2024

PROBOLINGGO – Kota Probolinggo menunjukkan pertumbuhan yang positif dalam bidang investasi pada semester pertama tahun 2024. Total investasi yang berhasil dicatat mencapai Rp 702.701.614.444. Meningkatnya investasi ini merupakan tanda bahwa kota yang juga dikenal sebagai Kota Bayuangga semakin menarik bagi para pelaku usaha.

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Probolinggo mencatat bahwa pertumbuhan investasi tersebut berasal dari 5.189 Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI). Selain itu, investasi ini berhasil menyerap 8.462 tenaga kerja, yang berarti banyak orang mendapatkan kesempatan pekerjaan baru di kota ini.

Rincian pertumbuhan investasi menunjukkan bahwa dari proyek yang terdaftar dalam Online Single Submission (OSS), terdapat 4.871 KBLI yang menerbitkan Nomor Induk Berusaha (NIB). Nilai investasi dari proyek ini mencapai Rp 462.698.103.390 dengan total tenaga kerja yang terserap sebanyak 8.462 orang.

Di samping NIB, Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) juga berperan penting dalam pertumbuhan investasi. Pada triwulan pertama, sebanyak 69 KBLI telah menyampaikan LKPM, dengan nilai investasi sebesar Rp 15.098.855.403. Pada triwulan kedua, jumlah tersebut meningkat menjadi 249 KBLI dengan nilai investasi mencapai Rp 224.904.649.651. Secara keseluruhan, total LKPM pada semester pertama mencapai Rp 240.003.505.054 dari 341 KBLI.

Kepala DPMPTSP Kota Probolinggo, Muhammad Abas, menjelaskan bahwa sektor-sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, dan perdagangan. “Pertumbuhan investasi di Kota Probolinggo hampir mendekati target yang ditetapkan oleh Provinsi Jawa Timur, yaitu Rp 800 miliar. Namun, kita masih kurang dari separuh target tersebut yang perlu direalisasikan,” ungkap Abas.

Abas juga menegaskan bahwa pencapaian target tersebut sangat bergantung pada kesadaran dan kemauan para pelaku usaha untuk membuat LKPM. Untuk itu, DPMPTSP terus mendorong pelaku usaha, baik individu maupun perusahaan, melalui berbagai kegiatan, seperti bimbingan teknis, sosialisasi, dan fasilitasi permasalahan.

library_books Dpmptspkotaprobolinggo