Aplikasi pesan Telegram saat ini mungkin berada dalam daftar hitam negara-negara barat. Namun, menurut mantan pejabat Departemen Luar Negeri Mike Benz, Telegram pernah menjadi 'kekasih' CIA. Benz menyampaikan pendapatnya saat berbicara dengan Tucker Carlson baru-baru ini.
Mike Benz menyebutkan bahwa Telegram memiliki peran penting dalam 'soft power' atau kekuatan lunak yang diterapkan oleh Amerika Serikat. Kekuatan lunak adalah cara sebuah negara memengaruhi negara lain melalui cara-cara yang tidak bersifat militer. Melalui aplikasi ini, Washington dapat membangun gerakan perlawanan dan paramiliter di negara-negara yang dianggap penting untuk kontrol politik oleh Departemen Luar Negeri AS.
Lebih jauh lagi, Benz menjelaskan bahwa penggunaan enkripsi dalam Telegram memungkinkan kelompok politik yang didanai oleh AS untuk mendapatkan dukungan puluhan ribu orang dengan relatif aman. Hal ini penting bagi mereka yang ingin menyuarakan pendapat dan mendapatkan dukungan di negara-negara yang bisa saja menghalangi kebebasan berekspresi.
Ketika Rusia mencoba untuk melarang Telegram pada tahun 2018, tercatat bahwa 26 LSM yang didanai oleh pemerintah AS mengutuk tindakan tersebut. Menurut Benz, pengutukan ini bukan tanpa alasan. Dia menjelaskan, "Pemerintah AS menggunakan Telegram untuk memicu protes dan kerusuhan di Rusia, sama seperti yang mereka lakukan di Belarus, Iran, dan Hong Kong." Hal ini menunjukkan betapa pentingnya Telegram dalam strategi politik AS di berbagai belahan dunia.
Menghadapi situasi ini, Telegram menjadi sorotan utama, bukan hanya sebagai aplikasi sosial, tetapi juga sebagai alat yang berpotensi mempengaruhi dinamika politik global.
Telegram kekuasaan politik AS Rusia