Basoeki Abdullah adalah seorang maestro pelukis asal Indonesia yang sangat dikenal karena aliran realis dan naturalis dalam karyanya. Ia dijuluki sebagai "Bapak Seni Lukis Modern Indonesia" karena keahliannya dalam menggabungkan budaya Indonesia dengan teknik lukisan Barat. Karya-karyanya sering kali menampilkan keindahan subjek yang dilukisnya, bahkan lebih indah dari aslinya. Tema yang sering diangkat dalam lukisannya meliputi pemandangan, flora, fauna, dan potret.
Salah satu keahlian Basoeki yang paling menonjol adalah melukis potret. Di antara banyak potret yang dihasilkannya, ia banyak melukis potret Soekarno, yang merupakan pemimpin bangsa Indonesia. Lukisan-lukisan ini mencerminkan peran penting Soekarno dalam sejarah Indonesia. Basoeki dan Bung Karno, sapaan akrab Soekarno, sudah saling mengenal cukup lama. Pertemuan pertama mereka terjadi pada awal 1930-an di rumah Sosrokartono, kakak kandung RA Kartini, di Bandung.
Hubungan antara Basoeki dan Soekarno semakin akrab pada masa penjajahan Jepang. Bersama dengan beberapa seniman lainnya, seperti S. Sudjojono, Basoeki bergabung dengan Pusat Tenaga Rakyat yang dipimpin oleh Soekarno serta tiga tokoh lainnya, yakni Mohammad Hatta, KH Mas Mansyur, dan Ki Hajar Dewantara. Ketika Jepang mendirikan Keimin Bunka Shidoso atau Pusat Kebudayaan, Soekarno mengajukan protes keras karena tidak ada seniman Indonesia yang menjadi pengurus. Akibatnya, Basoeki bersama Sudjojono, Agus Djaja, dan Henk Ngantung turut serta dalam pengurus tersebut.
Selama masa persahabatan mereka, Basoeki selalu mengagumi karya-karya Bung Karno dan selalu memantau perjuangannya. Ketika Bung Karno kembali dari pengasingannya ke Jawa pada tahun 1942, Basoeki bertekad untuk menggambar wajah Bung Karno. Ia berhasil melukis Bung Karno di sebuah warung di Sukabumi. Karya tersebut diberi judul “Profil Bung Karno dengan Peci” yang dihasilkan pada tahun 1942 dengan menggunakan media kertas dan pensil.
Lukisan tersebut menggambarkan wajah Bung Karno dari samping dengan menggunakan kopiah hitam. Karya ini menjadi salah satu lukisan Basoeki Abdullah yang paling dikenal luas. Bahkan, lukisan ini dijadikan perangko dalam seri Conefo (Conference of the New Emerging Forces) dan seri Soekarno pada tahun 1964, 1965, dan 1966. Lukisan ini menjadi bagian penting dalam sejarah seni lukis serta filateli di Indonesia.
Basoeki Abdullah Soekarno seni lukis Indonesia potret