Lebanon sedang menghadapi krisis kemanusiaan yang serius setelah serangan udara oleh Israel sejak awal minggu ini. Menurut Menteri Kesehatan Lebanon, setidaknya 558 orang telah tewas, di mana lebih dari 50 di antaranya adalah anak-anak. Angka kematian ini merupakan yang tertinggi sejak serangan Israel sebelumnya pada tahun 2006.
Peristiwa tragis ini menciptakan kepanikan dan kesedihan di tengah masyarakat Lebanon. Salah satu korban adalah seorang jurnalis asal Lebanon, Hadi al-Sayed, yang bekerja untuk Al-Mayadeen. Dia meninggal dunia setelah rumahnya terkena serangan pada hari Senin.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, juga mengeluarkan pernyataan pada hari Selasa, meminta komunitas internasional untuk turun tangan agar Lebanon tidak menjadi “Gaza yang lain”. Hal ini menunjukkan kekhawatiran yang mendalam mengenai situasi yang semakin memburuk di negara tersebut.
Sementara itu, kelompok Hezbollah mengonfirmasi telah meluncurkan beberapa serangan terhadap target militer Israel, termasuk sebuah pabrik bahan peledak yang terletak 60 kilometer di dalam wilayah Israel. Serangan ini dilakukan dengan menggunakan roket dari seri “Fadi”.
Dari sisi internasional, diplomat senior China, Wang Yi, menyatakan dukungannya untuk Lebanon dan mengutuk serangan yang dianggapnya sebagai “serangan sembarangan terhadap warga sipil”. Dia menegaskan, “Tidak peduli bagaimana situasi berkembang, kami akan selalu berada di sisi keadilan, di sisi saudara Arab kami, termasuk Lebanon.”
Dalam situasi yang semakin genting ini, maskapai penerbangan Air France telah memperpanjang penangguhan penerbangan ke dan dari Beirut selama satu minggu lagi karena alasan keamanan. Selain Air France, maskapai lain seperti Qatar Airways, Lufthansa, dan Delta Air Lines juga menghentikan penerbangan ke Beirut dalam beberapa hari terakhir, dan beberapa layanan penerbangan mereka ke Israel dan Iran turut terpengaruh.
Krisis ini menimbulkan berbagai tantangan bagi masyarakat Lebanon yang sedang berjuang untuk bertahan di tengah kekacauan dan ketidakpastian.
Lebanon Israel serangan anak-anak kemanusiaan