Perancis telah meminta rapat darurat Dewan Keamanan PBB pada hari Senin setelah Israel meluncurkan serangkaian serangan udara paling mematikan di Lebanon. Serangan ini ditujukan untuk menargetkan kelompok militan Hezbollah yang didukung oleh Iran.
Menteri Luar Negeri Perancis, Jean-Noel Barrot, meminta pertemuan ini diadakan minggu ini, bersamaan dengan pertemuan tahunan Majelis Umum PBB di New York. Dia menyerukan semua pihak untuk "menghindari konflik regional yang bisa menghancurkan semua orang," terutama bagi warga sipil yang tidak bersalah.
Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, lebih dari 490 orang dilaporkan tewas akibat serangan udara Israel di bagian selatan dan timur negara itu pada hari Senin. Ini adalah serangan Israel yang paling mematikan di Lebanon sejak perang tahun 2006 antara Israel dan Hezbollah.
Josep Borrell, kepala urusan luar negeri Uni Eropa, mengatakan bahwa ketegangan antara kedua belah pihak telah meningkat hingga hampir menjelma menjadi perang penuh. "Situasinya sangat serius dan memerlukan perhatian segera," tambahnya.
Seorang pejabat AS juga mengungkapkan bahwa Amerika Serikat sedang menyusun "ide-ide konkret" di PBB untuk meredakan ketegangan antara Israel dan Hezbollah di Lebanon. Namun, belum jelas apa hasil yang bisa dicapai untuk meredakan situasi di Lebanon, mengingat upaya untuk menciptakan gencatan senjata di Gaza, yang telah diserang Israel tanpa henti sejak serangan teroris Hamas pada Oktober 2023, tidak membuahkan hasil.
Ketegangan ini menunjukkan betapa kompleksnya situasi di kawasan tersebut, di mana banyak nyawa yang hilang dan dampak kemanusiaan yang besar dirasakan oleh warga sipil.
Perancis PBB Israel Lebanon serangan udara Hezbollah