Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

René Girard, seorang pemikir yang sangat berpengaruh, telah menarik perhatian banyak orang dengan ide-ide tentang keinginan dan pengorbanan. Dalam pandangannya, terdapat konsep yang sangat penting yaitu mimesis, yang berarti keinginan yang meniru atau menyalin. Girard percaya bahwa kita tidak menginginkan sesuatu karena kita kekurangan, tetapi karena orang lain menginginkannya. Hal ini membuat kita mengejar bukan hanya objek, tetapi juga bayangan dari mimpi orang lain.

Di dalam pemikiran Girard, munculnya persaingan dan kekerasan tidak dapat dipisahkan dari mimesis. Ketika kita meniru keinginan orang lain, kita tidak jarang terjebak dalam rivalitas, yang pada akhirnya dapat berujung pada kekerasan. Girard menyebut bahwa untuk menyelesaikan konflik ini, muncul sosok yang disebut scapegoat atau kambing hitam. Kambing hitam ini bukanlah orang yang bersalah, tetapi orang yang tersedia untuk disalahkan.

Dalam masyarakat primitif, orang-orang sering kali mengusir individu yang dianggap terinfeksi atau berbahaya, bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk menyembuhkan. Proses pengusiran ini kemudian menjadi mitos, dan mitos tersebut akan menjadi hukum yang sering kali menutupi kekerasan yang ada dalam budaya. Dengan cara ini, agama bisa terbentuk—bukan sebagai kebenaran, tetapi sebagai gencatan senjata untuk menghentikan kekerasan.

Girard memiliki pandangan yang kuat tentang Kristen yang ia sebut bukan sebagai mitos, tetapi sebagai akhir dari semua mitos. Menurutnya, ajaran Kristus tidak mengesahkan pengorbanan, tetapi justru membuka tabir pengorbanan itu sendiri. Dalam konteks ini, Girard berani mengatakan bahwa Gospels (Injil) tidak menghormati korban, tetapi justru mengungkap siapa korban sebenarnya.

Namun, meskipun pemikiran Girard sangat mengesankan, ada keraguan yang muncul mengenai apakah semua aspek dari keinginan manusia dapat dijelaskan hanya dengan mimesis. Walaupun Girard membangun argumen yang kuat, tetap ada pertanyaan: apakah seluruh kerinduan manusia dapat diringkas hanya pada peniruan?

Seperti halnya Kierkegaard, Girard tidak meminta kita untuk setuju, tetapi untuk merenungkan. Membaca karya Girard bukanlah untuk mengikuti, tetapi untuk melawan—dan dalam perlawanan itu, kita bisa diubah. Dengan cara ini, Girard mengajak kita untuk melihat lebih dalam tentang apa yang kita inginkan dan bagaimana keinginan itu mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari.

library_books Arancanes