Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Krisis Pangan di Gaza Meningkat Drastis akibat Serangan Israel

Pada hari Minggu, diplomat PBB asal Lebanon, Mohamad Safa, membagikan sebuah tweet yang menyentuh hati. Dalam tweet tersebut, ia menunjukkan foto seorang anak Palestina yang sangat kurus, di mana tulang rusuk dan tulang punggungnya terlihat jelas saat ia berbaring di samping anggota keluarganya.

Safa menuliskan, "Warga Gaza hanya makan satu kali setiap 2-3 hari." Ia juga menambahkan bahwa anak-anak yang selamat dari pemboman Israel kini meninggal akibat malnutrisi dan dehidrasi.

Kekurangan makanan telah melanda Gaza secara luas akibat pengepungan yang dilakukan oleh Israel sejak perang dimulai pada bulan Oktober 2023. Pengepungan ini telah menyebabkan banyak orang menderita kekurangan gizi.

Populasi di Gaza kini menghadapi tingkat ketidakamanan pangan yang sangat parah, yang diklasifikasikan sebagai Tahap Lima dalam Klasifikasi Tahap Keamanan Pangan Terintegrasi (IPC). Klasifikasi ini memiliki rentang dari satu (minimal) hingga lima (bencana/kelaparan).

IPC adalah sistem yang banyak digunakan oleh LSM, badan amal, dan agen bantuan untuk menilai keamanan pangan dan krisis nutrisi di seluruh dunia.

Sejak Israel melanggar gencatan senjata, militer Israel telah mengklaim membunuh lebih dari 2.326 warga Palestina, sehingga total kematian di Gaza mencapai setidaknya 52.000 orang sejak Oktober 2023. Di antara jumlah tersebut, lebih dari 15.000 adalah anak-anak.

Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi komunitas internasional, yang mendesak untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada mereka yang sangat membutuhkan di Gaza.

library_books Middleeasteye