Pada tanggal 8 dan 9 Mei, sebuah acara yang disebut ‘KTT Perdamaian Rakyat’ dengan tema ‘Saatnya Telah Tiba’ berlangsung di pusat konvensi Binyanei HaUma, Yerusalem. Acara ini dihadiri oleh enam puluh organisasi dari Israel yang berkumpul untuk mempromosikan perdamaian dengan harapan dapat mencapai resolusi politik untuk konflik Israel-Palestina.
KTT ini menyajikan berbagai kegiatan seperti tur, lokakarya, pemutaran film, dan pertunjukan. Pada hari kedua, terdapat pidato kunci yang mendorong pandangan dunia berbasis perdamaian, sesuai dengan deskripsi para penyelenggara.
Menurut situs webnya, tujuan KTT ini adalah untuk mempromosikan dialog antara rakyat Palestina dan Israel. Mereka berharap dapat memicu perubahan sosial dan menanamkan keyakinan bahwa setelah setiap perang, akan ada proses politik yang diikuti.
Namun, visi ini tampaknya mengabaikan realitas yang terjadi di Gaza. Banyak yang berpendapat bahwa bahasa perdamaian dan dialog yang digunakan justru menyembunyikan keterlibatan, mengalihkan tanggung jawab, dan menunda tindakan. Gaza telah mengalami situasi yang memprihatinkan, dan tidak ada orang dengan akses internet dan hati nurani yang bisa membantahnya. Yang kurang hanyalah keberanian untuk menyebutkan nama masalah tersebut.
Ketidakmampuan KTT ini untuk menggunakan kata ‘genosida’, meskipun telah ada pengakuan dari para ahli genosida internasional, sangat mencolok. Hal ini juga terlihat dari ketidakpedulian terhadap penggunaan kelaparan sebagai senjata perang oleh Israel, serta kegagalan untuk berbicara kepada publik Yahudi-Israel tentang apa yang terjadi atas nama mereka dan dengan partisipasi mereka.
Ketiadaan kritik serius terhadap tindakan militer Israel menimbulkan pertanyaan mendasar tentang motif di balik KTT ini. Apakah para penyelenggara benar-benar percaya bahwa segala cara dibenarkan jika tujuannya adalah untuk menjatuhkan Hamas?
Diskusi mengenai acara ini menciptakan perdebatan yang dalam tentang bagaimana perdamaian dapat dicapai di tengah konflik yang berkepanjangan. Apakah KTT ini adalah langkah menuju perdamaian yang nyata, ataukah hanya ilusi yang menyembunyikan masalah yang lebih besar?
KTT Perdamaian Yerusalem Israel Palestina konflik