Tim aktivis lingkungan dari Greenpeace pada hari Jumat lalu memasang spanduk besar di sepanjang sungai di daerah Amazon, Brasil. Spanduk tersebut diletakkan di sebuah pulau pasir yang muncul di Sungai Solimoes dan bertuliskan "Siapa yang Membayar?".
Menurut Romulo Batista, juru bicara Greenpeace Brasil, tujuan dari aksi ini adalah untuk menyampaikan pesan bahwa perubahan iklim sudah mulai mempengaruhi hutan hujan terbesar di dunia dan mengeringkan sungai-sungainya. "Kami ingin menyoroti dampak serius dari kekeringan ini," ujar Batista.
Kekeringan yang terjadi saat ini telah menurunkan level air di Sungai Solimoes ke titik terendah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini menyebabkan bagian dasar sungai terlihat di seberang kota Manacapuru, yang terletak tidak jauh dari kota Manaus, di mana Sungai Solimoes bergabung dengan Rio Negro untuk membentuk Sungai Amazon yang megah.
Badan pemantauan bencana alam Brasil, Cemaden, telah menyatakan bahwa kekeringan saat ini adalah yang "paling parah dan meluas" yang pernah mereka catat. Kekeringan ini juga menyebabkan kebakaran hutan yang luas, membunuh satwa liar, dan membuat komunitas yang tinggal di tepi sungai terjebak karena jalur air yang semakin dangkal sehingga perahu tidak dapat lewat.
Batista menambahkan, "Orang-orang yang tinggal di luar kota-kota di Amazon adalah mereka yang paling merasakan dampak dari peristiwa cuaca ekstrem ini, yang disebabkan oleh industri minyak dan gas di seluruh dunia."
Sebuah studi yang diterbitkan awal tahun ini menunjukkan bahwa perubahan iklim adalah penyebab utama dari kekeringan terburuk di hutan Amazon dalam setidaknya lima dekade terakhir. Aksi Greenpeace ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan dan dampak dari perubahan iklim.
Greenpeace Amazon kekeringan lingkungan perubahan iklim